KENYATAAN bahwa gue diputusin Beby adalah salah satu hal (mungkin) terburuk dalam hidup gue. Sempat terlintas pertanyaan bodoh, seperti: "Apa yang kurang dari gue?" Tapi gue sadar, gue nyaris gak punya kelebihan. Satu-satunya kelebihan yang gue miliki adalah: tangan gue bisa menjangkau seluruh bagian punggung saat mandi.
Gue galau segalau-galaunya. Hari tak lagi indah, ayam jago kembali fals saat berkokok, kicau burung kembali biasa, udara pagi kembali dingin. Kecuali kalo pagi-pagi kebakaran (yaiyalah!).
Layaknya seperti orang patah hati pada umumnya, gue jadi gak semangat ngapa-ngapain. Gue jadi males kerja kalo lagi libur, gue gak bisa tidur kalo gak ngantuk, gue juga gak selera makan kalo gak laper (bukannya ini normal!!).
Semakin gue coba ngelupain semua tentang Beby, malah semakin sering gue inget. Saat paling rawan inget mantan itu pas bangun pagi. Ketika bangun, terus gue tersadar bahwa Beby udah bukan lagi milik gue, seketika itu gue galau. Saat itu, gue berada dalam keadaan dimana baygon terlihat seperti cendol yang menyegarkan. Dan tambang jemuran terlihat seperti kalung berlian. Rasanya capek banget buat bernafas. Gak pernah gue ngalamin patah hati yang sampai segitunya. Atas pertimbangan yang matang, akhirnya gue mempredikatkan itu sebagai PATAH HATI TERDAHSYAT dalam hidup gue.
Berminggu-minggu sudah gue terzalimi oleh setiap sudut kota Bandung. Terlalu banyak kenangan di kota ini. Sejak gue diputusin Beby, gue juga gak pernah lagi main ke tempat Om gue (yang deket rumah Beby). Gue takut nanti liat Beby. Gue takut kalo liat Beby, nanti pas pulang gue tersesat. Terus nanti gue capek nyari jalan pulang. Akhirnya gue jatuh di empang, dan gak bisa bangkit lagi. Kemudian gue tenggelam (loh kok kayak lirik lagu).
Akhirnya gue memutuskan buat pulang kampung. Dengan harapan bisa lupa sama Beby. Gue pun berangkat ke terminal bis dan mengambil tiket malem. Lagi-lagi dengan harapan biar gak inget Beby, ya walaupun cuma sesaat. Karena kalo malem kan bisa langsung tidur. Coba aja bayangin kalo siang. Udah panas, bau ketek, gak bisa tidur, dan dalam keadaan hati yang cacat lagi. Yaammpuunnn...
Bis pun berangkat pas jam 12 malem. Gue langsung tidur. Sekitar 5 jam perjalanan, akhirnya gue nyampe Brebes. Dilanjut dengan naik ojek 30 menit ke rumah . Sesampainya dirumah, nenek gue menyambut kedatangan gue. Tapi gue menyambitnya (Ya engga lah). Setelah ngobrol-ngobrol sama nenek (yang kebetulan sambil nyariin kutu gue), gue mengambil keputusan bijak: tidur lagi.
Lalu gue terjaga sekitar jam 9 pagi. Dan seperti biasa, langsung inget mantan. Ya Allah, kalo begini terus sih gue bisa gila. Biar gak inget Beby, gue harus nyari kesibukan. Gue mikir, kira-kira ngapain ya. Tapi gue langsung tersadar kalo gue gak punya otak. Dan karena gue takut nanti kepala gue meledak, akhirnya gue memilih untuk nyari rumput buat kambing-kambing kakek.
Setelah sarapan, gue berangkat ke sawah membawa karung. "Trisno..trisno.. mau kemana?" Teriak nenek gue saat gue akan berangkat ke sawah. Nenek emang selalu manggil gue dengan nama kecil gue: Sutrisno. Bahkan nenek gak tau nama depan gue.
"Nyari rumput, nek."
"Eh..eh..tapi..tapi bla bla bla."
Gue ngeloyor tanpa denger nenek ngomong apa. Gue tau nenek pasti kaget ngeliat gue yang baru aja pulang dari kota, tapi dengan gagahnya langsung nyari rumput. "Nenek pasti bangga banget punya cucu kayak gue." pikir gue. Setibanya disawah, gue langsung nyari rumput. Sedikit demi sedikit rumput gue masukkan ke karung. Panasnya matahari tidak menyurutkan semangat gue. "Gue harus sibuk, gue harus sibuk." Dalam hati gue terus bicara demikian. Tapi tetep, gue kepikiran Beby ditengah pencarian rumput.
Rumput pun penuh. Gue pun pulang dengan sekarung rumput dipundak gue. Karena capek, gue langsung masuk ke rumah untuk minum. Sementara rumput gue simpan dengan aman di depan rumah.
"Udah nyari rumputnya?" nenek nanyain gue yang lagi minum.
"Udah dong nek, cepet kan? Haha." jawab gue bangga.
"Iya tapi untuk apa? Kambing-kambing kakek kan udah dijual."
"APAAHHH??!! Gue yang lagi minum, hampir mati keselek.
Dengan langkah cepat, gue langsung menuju ke kandang kambing yang terletak tidak jauh dari rumah nenek. Dan benar saja, gak ada kambing satupun. Dengan langkah gontai gue jalan menuju rumah. Terlihat sekarung rumput malang didepan rumah. Harus gue apakan rumput itu. Gue udah gak doyan lagi. Ah biarkan saja udah, pikir gue. Lalu gue masuk, langsung terkapar di kursi kayu yang panjang. Nenek menghampiri gue sambil ngakak. "Makanya, dengerin dulu nenek ngomong. Maen pergi gitu aja sih. Hahaha."
Gue hanya diam mengakui kegoblokan gue.
Gue langsung menyalahkan hal ini terjadi karena mantan gue. Yap, gue jadi gak fokus gara-gara si kampret Beby.
Hari demi hari gue lalui di kampung. Tapi Beby dengan hebatnya selalu merusak pikiran gue. Selalu begitu setiap hari.
Gue mencoba mengambil hikmah dibalik itu semua. Tapi gak dapet-dapet. Mungkin si hikmah ini males ketemu gue.
Tamat...
Pesan moral: Ketika kita mendapatkan cinta yang kita dambakan, saat itu juga kita mendapatkan patah hati. Cepat atau lambat, patah hati itu akan datang. Tapi seberapa besarkah patah hati itu? Ya tergantung, tergantung dari seberapa besar harapan pada cinta yang kita dapatkan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar