Kamis, 05 Februari 2015

MENCINTAI DALAM DIAM

     NAHAN kentut emang gak enak banget. Perut pasti jadi gak nyaman.  Tapi mau gimana lagi. Semua orang pasti pernah dalam posisi dimana dia harus nahan kentut. Karena waktu dan keadaan yang memaksanya buat nahan kentut. Pantat kita juga harus dengan terpaksa menanggung beban ini.

     Seperti halnya cinta. Dimana terkadang kita harus memilih tidak menyatakannya. Kerana waktu dan keadaan yang kurang tepat. Dan dengan terpaksa pula, kita pun harus menahannya. Tapi sampai kapan? Entahlah... Maka beruntunglah mereka yang mampu mencintai diam-diam tanpa berharap bisa memiliki. Karena itu tadi, sama rasanya kayak nahan kentut: gak enak.

     Semua orang pernah mencintai diam-diam. Gak tau kenapa, walaupun kita gak bisa ngomong sama orang yang kita cintai. Tapi dengan bodohnya kita tidak bisa membohongi diri sendiri kalau kita mencintainya. Dengan hanya melihatnya, kita bisa ngerasa cukup mampu untuk setidaknya melewati hari ini. Kita orang-orang yang mencintai dalam diam, memang bodoh. Tapi kalau dengan kebodohan ini kita merasa 'lengkap', apa salah?

     Kita orang-orang yang mencintai dalam diam, merasa sangat butuh untuk melihat orang yang kita cintai. Saat dia dikantin sekolah, kita pasti pura-pura membeli sesuatu hanya untuk melihatnya. Kalau dia dikelas, kita akan pura-pura lewat didepan kelasnya lalu melirik sebentar kedalam. Kalau dia juga melirik balik ke kita, pasti dengan secepat kilat kita bakal memalingkan muka. Ya, kita malu. Kalau dia tinggal tidak jauh dari rumah kita, kita akan pura-pura lewat depan rumahnya dan berharap dia ada didepan rumah. Bahkan ketika dia tidak terlihat untuk beberapa waktu, kita akan berusaha mencarinya. Setelah ketemu? Yap, hanya melihatnya dari jauh, itu cukup bagi kita. Karena setidaknya, dia dalam keadaan baik.

     Kita orang-orang yang mencintai dalam diam, selalu berusaha mencari informasi tentang dia. Kita akan cari tau akun sosial medianya apa, sampai nomor teleponnya. Ketika kita sudah dapet akunnya, kita akan melihat profilnya se-detail mungkin. Melihat foto-fotonya, mengunduh, kemudian di save. Terkadang dengan bodohnya, kita akan mengedit fotonya dengan foto kita supaya menjadi satu. Walaupun dikehidupan nyata tidak mungkin terjadi, setidaknya dengan mengedit fotonya bisa memberikan kita sedikit senyum sebelum tidur. Dan berharap bisa memimpikannya. Tapi ketika itu tidak terjadi, kita sadar bahwa dalam mimpi pun kita gak pantas berharap.

     Kita orang-orang yang mencintai dalam diam juga terkadang menelponnya dengan tidak berbicara. Ketika dia mengangkat telepon kita dan menyapa beberapa kali, kita pun akan menutup teleponnya. Bahkan untuk ngomong aja rasanya sulit. Dan untuk beberapa kali, kita pun harus merasa 'cukup' dengan hanya mendengar suaranya walaupun cuma sebentar. Terkadang kita juga mengirimkan pesan singkat. Ketika dia membalas pesanya, kita dengan bodohnya lagi gak mau ngaku kita siapa. Seperti memakai nama palsu, contoh: dari Tarmo jadi Michael. Kita terlalu cemen memang.

     Pada saat lagi ngobrol berdua atau rame-rame pun, kita harus berusaha. Berusaha untuk stay cool, untuk menutupi rasa grogi kita. Kita harus selalu berpura-pura kelihatan biasa aja. Walaupun kadang terasa capek juga. 

     Kenyataan pahit buat orang yang mencintai dalam diam adalah: dia udah punya pacar. Gue tau banget gimana rasanya. Tapi inilah resikonya. Setelah itu apa yang harus kita lakukan? Tak lain dan tak bukan, adalah: mendoakannya. Yap, kita orang-orang yang mencintai dalam diam selalu mendoakan orang yang kita cintai. Berdoa supaya kebahagiaan selalu bersamanya. Setelah itu apa lagi, apa kita akan terus mencintainya? Apa kita akan terus menahan kentut yang kemudian akan membuat perut kita gak nyaman, lalu jatuh sakit?

     Kita orang-orang yang mencintai dalam diam memang akan dihadapkan pada pilihan yang sulit, yaitu: 1. Tetap mencintainya, kemudian sakit. 2. Mencari orang yang kemungkinan besar bisa menerima kita. Masalahnya, apa ada orang yang mau dengan lapang dada buat kita kentuti? Entahlah.. Yang jelas, hidup harus terus berjalan. Dan tidak ada alasan yang pantas untuk memilih opsi ke 1. Yakinlah.. suatu saat kita pasti bisa dalam posisi dimana waktu, keadaan, dan orang yang kita cintai, bisa menerima kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar