Senin, 26 Januari 2015

KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, aku tau kamu mencintaiku. Aku tepat berada dibalik pintu hati yang kamu ketuk itu. Terdengar jelas ketukan yang mungkin kamu bunyikan dengan menekukan jemarimu.

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, ingin rasanya aku membukakannya untukmu. Tapi tahukah kamu, didalam sana ada ruang-ruang tersembunyi yang sangat gelap mencekam, kotor, dan sangat bau. Aku yakin tidak ada orang yang ingin memasukinya termasuk kamu, tapi kenapa kamu terus mengetuknya? Aku yakin ketika aku bukakan pintunya dan mempersilahkanmu masuk kedalam, kamu akan menahan nafasmu dengan jempol dan jari telunjuk yang menjepit hidungmu, kemudian kamu akan mengayunkan kakimu dengan cepat tak seperti saat kamu datang dan keluar lagi karena tidak tahan.

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, tahukah kamu ketukan itu terdengar riuh, sangat bising, karena disini sangat sunyi. Kenapa terus mengetuk? Kenapa? Apa kamu akan menunggu sampai aku menggerakan tangan ini ke kunci yang menempel dipintu itu lalu membukanya? Ahh lebih baik aku pura-pura tidak mendengar ketukan itu. Tapi didalam sini terasa gaduh oleh suara ketukanmu. Tolong hentikan, hentikan ayunan tangan lembutmu mengetuk pintu ini lalu pergilah. Pergilah, diluar sana masih banyak tempat yang lebih layak untuk kamu datangi.

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, kenapa terus mengetuk? Ingin rasanya aku teriak dari dalam sini "Mau apa? Kenapa kamu ingin masuk kesini?", tapi aku aku takut. Aku takut kamu berhenti mengetuk dan benar-benar pergi. Tanpa sadar ego dan perasaanku berdialog, "Kenapa aku ini? Kalau takut dia pergi dari balik pintu ini, kenapa tidak membukakan saja?". Entahlah, disisi lain aku juga takut kamu cuma akan masuk sebentar lalu pergi lagi layaknya seorang tamu. Aku takut kamu tak tahan didalam sana, padahal belum merubah tempat itu sedikitpun.

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, lihatlah kebawah, tempat dimana kakimu berpijak. Lihatlah bercak darah itu yang mengotori sepatumu. Maafkan aku karena tidak bisa memberikanmu tisu untuk membersihkannya, lagipula setelah melihat darah itu kamu pasti kaget kalau tiba-tiba aku membuka pintu. Tenang, aku bukan pembunuh. Tapi akulah yang dibunuh, hati ini telah mati oleh seseorang yang sangat keji, seseorang orang yang dahulu pernah memiliki dan menghuni tempat ini. Ya, darah itu. Darah itu dari luka yang ditinggalkannya. Luka yang sangat dalam, bertahun-tahun aku menahannya. Sakit sekali rasanya, kamu tak akan pernah bisa membayangkannya. Luka yang bahkan darahnyapun masih mengalir, sampai-sampai melewati celah dibawah pintu itu.

  Ketika hatiku ada yang mengetuk, akan kubuka pintu ini. Tapi apakah kamu bisa membantuku, membantuku mencari dimana luka itu. Oh Tuhan rasanya seperti ada benda tajam yang menancap disana. Bisakah kamu menemukannya, apakah benda tajam yang ditancapkan orang jahat itu? Durikah? Pisaukah? Atau mandau yang penuh karatkah? Tolong bantu aku, tolong cabutkan benda itu. Tolong... lihatlah lukanya, bisakah kamu mengobatinya? Membalut dan merawatnya sampai pulih, bisakah? Aku harus mempercayaimu untuk ini.

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, tempat ini begitu gelap. Bisakah kamu meneranginya? Bisakah kamu mengalirkan kasih sayangmu supaya disini terang benderang seperti sedia kala? Sehingga kamu dapat melihat ruang-ruang tersembunyi yang pernah dihuni orang berhati iblis itu. Lihatlah kedalam ruang itu, carilah ukiran nama atau sesosok wajah seseorang yang sampai hati meninggalkan tempat ini dengan menancapkan luka. Ambillah, copotlah semua yang berhubungan dengan orang itu. Bungkuslah dengan baja, ikatlah dengan rantai dan kuncilah dengan banyak gembok, isi disetiap lubang rantai itu bila perlu, agar tak lagi mengotori tempat yang sudah sudi kamu masuki dan buanglah jauh-jauh benda itu.

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, tinggallah dengan tenang didalam sini. Bersihkan dan renovasilah tempat itu hingga nyaman untuk kamu huni. Walaupun aku tak tau akan seberapa lama kamu akan tahan tinggal disitu, tapi tolonglah suatu saat jika kamu ingin pergi dari tempat itu, tetaplah dalam keadaan bersih dan tak ada luka, jangan kamu kotori kembali, jangan kamu tancapkan benda tajam kembali, jangan...

   Ketika hatiku ada yang mengetuk, tetaplah mengetuk, tetaplah seperti itu, tetaplah dengan cinta yang dari awal kamu datangkan saat mengetuk pintu itu, jangan berubah...

Sekian :')


Tidak ada komentar:

Posting Komentar