Jumat, 27 Maret 2015

AAUUWWHH...

       WAH udah lama ya gue gak posting ke blog. Bukan tanpa sebab lho! Itu semua karena tangan kanan gue sakit banget (padahal mah emang lagi gak ada ide hehe..). Pada mau tau gak yang sakit bagian mana? Ini nih sebelah sini, liat kan? Iya ini, bagian ini nih. Masa gak liat sih? Ah yasudah lah.
       Karena sakit, gue memutuskan buat pijat ke tukang cukur. Bingung kan? Gue juga gak tau namanya siapa. Tapi dia biasa dipanggil Abang. Profesinya sih tukang cukur. Dia punya lapak pangkas rambut gitu di bilangan Manglid deket Sayati Lama, Kabupaten Bandung. Dan kebetulan dia tetangga gue disini. Dia juga terkenal biasa meraba (baca: memijat) orang.
       Si Abang ini orang Padang tulen. Orang Padang yang berprofesi sebagai tukang cukur di Bandung. Baru denger kan? Ya, gue juga. Karena memang biasanya profesi tukang cukur di Bandung ini di dominasi oleh orang Garut. Walaupun si Abang ini orang Padang, tapi cara dia nyukur seperti tukang cukur pada umumnya. Gak nyukur sambil silat, gak juga sambil makan rendang.
       Gue pernah sekali cukur ke si Abang. Cukurnya sih biasa, yang beda itu pijatan setelah cukurnya: enak banget. Beda banget sama cara mijatnya tukang cukur dari Garut. Saking enaknya, gue rela cukur tiap hari kesana. Gundul-gundul dah!

       Tepatnya kemarin malam, gue pijat ke si Abang. Awalnya gue bilang ke si Didi, temen gue. "Di, kayaknya gue perlu pijat deh."
       "Ok ntar gue bilang ke si Abang, ya!" kata Didi. "Paling ntar jam 10 juga dia balik."
       "Iya deh."
       Si Abang memang sudah biasa memijat temen-temen gue disini. Tapi ini pertama kalinya buat gue.

       Gue pun menunggu. Tapi setelah jam 10 malam, si Abang belum juga datang. Dia masih di lapak pangkas rambutnya.
       Jam 10:45 si Abang belum juga pulang ke kontrakannya.
       11:10 malam, gue ketiduran.
       11:12 itu perbandingan muka gue sama Harry Styles.
     
       Lewat jam 12 malam, gue dibangunkan dari tidur. Gue lihat si Abang udah ada di kontrakan gue. Buat yang pengen tau, si Abang ini muka dan perawakannya mirip Yayan Ruhian. Tapi saat berantem di lift sama Iko Uwais di film Merantau.
       "Bagian mano yang sakit?" kata si Abang dengan logat Minangnya yang kental.
       "Disini, Bang!" gue menunjuk bahu kanan, tepat diatas ketek gue.
       "Buka ajo bajunyo!"
       Gue membuka baju dan duduk membelakangi si Abang.

       Si Abang mengambil minyak tawon dan menggosok-gosokan ke telapak tangannya. Dia lalu menempelkan kedua tangannya ke punggung gue. Persis seperti pendekar yang lagi mengobati luka dalam muridnya. Kayak di film Dendam Nyi Pelet gitu.
       Sekitar satu menit kita dalam posisi ini dengan keheningan. Kemudian si Abang mulai memijat gue.
       "AAWWW!!" jerit gue agak kencang. Sakit, tekanannya keras banget.
       "Kenapo, terlalu keras? Mau sayo pelankan lagi?" kata si Abang, sedikit ketawa.
       "I..iya, Bang." gue menyeringai.

       Tidak lama kemudian, Didi pulang. Dia habis membeli nasi goreng.
       "Udah lama, Bang?" sapa Didi.
       "Aihh, baru ajo."

       Si Didi kebelakang. Kemudian dia balik ke kamar dengan segelas kopi hitam.
       "Diminum, Bang!" kata Didi.
       "Aihh, merepotkan sajo!"
       "Enggak kok, Bang."
       Sementara itu gue sibuk menahan sakitnya tekanan tangan kasar si Abang.
       Si Abang menyuruh gue tidur tengkurap. Dia mulai meng-grepe (baca: memijat) punggung gue. Disamping kita, Didi duduk menonton tv. Mungkin karena gak ada acara yang seru, Didi menyalakan DVD player. Dia mulai memilih kaset DVD bajakan koleksinya.
       "Mau nonton apo?" tanya si Abang ke Didi.
       "Iya.. apa ya?" Didi bingung, karena memang semua DVD sudah pernah dilihatnya. Tapi kemudian Didi memilih nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sebenarnya sudah berkali-kali Didi nonton film ini. Tapi kemudian gue tau. Yaitu karena si Abang orang Padang. Semenjak pertama kali nonton film ini, Didi memang penasaran tentang adat Minangkabau. Apakah memang seperti yang diceritakan dalam film itu apa tidak.
       "Udah pernah nonton film ini, Bang?" tanya Didi.
       "Film apo memang?"
       "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Bagus nih film, Bang!"

       Didi mulai memainkan film itu. Setelah film mulai, si Abang bilang, "Ohh, ini kan sudah tayang di tv kan?"
       "Iya, di RCTI." jawab Didi.
       "Sayo pernah lihat waktu itu, tapi tidak sampai selesai."
       "Nah, kali ini selesaikan, Bang!" kata Didi sambil ketawa kecil gitu.

       Setengah jam film dimainkan. Sementara itu gue kesakitan. Demi meredam suara jerit gue yang mirip seperti bencong ngelihat kecoa, gue terus-menerus membenamkan muka gue ke bantal. Tapi gerakan tangan si Abang, cukup sering membuat gue mendongak keatas.
       "Kalo Abang Padang-nya dimana sih?" tanya Didi.
       "Sayo di Pariaman."
       "Jauh dari Padang Panjang, Bang?"
       "Lumayan, dua setengah jam kalau naik motor."
       "Kalo Batipuh jauh, Bang? Batipuh itu apa sih, Bang? Kampung apa Kecamatan sih?"

       Didi yang memang penasaran, terus menghujani pertanyaan ke si Abang.
       "Jauh juga. Batipuh itu kayak Desa, Dusun gitu lah." jawab si Abang dengan sabar.
       "Ohh.." Didi manggut-manggut.
       Gue hanya mendengarkan obrolan mereka. Tenaga gue habis. Gue gak bisa ikut ngobrol. Karena yang bisa keluar dari mulut gue cuma: "AAWWW!"
       "Pas ini, disini!" kata si Abang. "Sayo nonton cuma sampai sini waktu itu." Si Abang nunjuk adegan dimana Zainuddin pulang dari pacuan kuda, karena gak bisa dekat dengan Hayati.
       "Ohh..iya." Didi manggut lagi, menanggapi si Abang.
       "Di sano memang sering ado pacuan kuda." si Abang menambahkan, "Di daerah sayo malah sampai sekarang masih ado. Gede-gede lagi."
       "Apanya, Bang?" Didi kaget.
       "Uang taruhannyo."
       "Ohh..itunya juga gede ya, Bang?"
       "Apanyo?" giliran si Abang yang kaget.
       "Kudanya." kata Didi, diiringi ketawa kecilnya.
       "Iyo..lah!"

       Mereka berdua terus asyik ngobrol. Gue semakin lemah terkulai, kesakitan.
       "Aauuww.." jerit gue lagi, disertai kepala yang mendongak keatas.
       "Masih sakit? Padahal sudah paling pelan, lho!" ujar si Abang. "Mau sayo pelankan lagi?"
       "Gak usah, Bang! Segini cukup kok." kata gue berbohong. Gue gak mau nanti si Abang beranggapan kalo orang Jawa itu cemen-cemen. Jadi biarlah gue sakit, asalkan gue bisa menjaga nama baik suku gue. Ehmm..keren ya gue? :D

       "Kalo orang Bugis itu apa sih artinya, Bang?" Didi terus nanya.
       "Bugis itu kayak nama daerah. Dekat Medan itu, Sumatera Utara." jawab si Abang dengan sok tau.
       "Hihihii.." gue ketawa mendengarnya.
       "Kenapo tertawa? tanya si Abang ke gue.
       "Geli, Bang.. hihihii.." jawab gue bohong. Si Abang percaya aja, karena memang dia mulai memijat bagian paha gue. Didi pasti tau kalo si Abang gak tau soal Bugis itu apa.
       "Oh kirain Bugis itu artinya miskin." ujar Didi, kalem.
       "Hahaha.." gue ketawa cukup kenceng. Sebelum ditanya kenapa, gue bilang: "Geli banget, Bang! Hehe.." Gue bohong lagi. Anggapan gue salah ternyata. Didi mengira saat tokoh Zainuddin dikatain orang Bugis, dia kira itu artinya: orang miskin.
       Gue jadi inget, pernah disuatu hari Didi lagi dengerin lagu Reggae yang ada Lombok-Lomboknya gitu. Sedangkan gue lagi serius kerja. Diantara panasnya cuaca dan suasana yang hening, tiba-tiba Didi nanya ke gue: "Pon, Lombok itu di Jawa Tengah apa Jawa Timur, sih?" Karena gue kira dia bercanda, gue pun dengan sangat malas menjawab: "Di pantai barat pulau Sumatera, Di. Dekat Pontianak."
       "Oh.." kata Didi, kalem. Gue gak nyangka dia percaya begitu aja.

       Dua jam lamanya gue dipijat. Seluruh badan gue linu. Setelah pijat, gue memutuskan untuk langsung tidur. Sementara si Abang dan Didi masih nonton. Si Abang pun sepertinya mulai hanyut terbawa cerita filmnya. Sepanjang film diputar, tak henti-hentinya Didi nanya ke si Abang. Soal adat Minang lah, soal cowok disana yang katanya dibeli cewek lah, sampai ke masalah personal seperti: Abang ngantuknya kapan, ya? Karena memang Didi udah terlihat ngantuk banget malam itu. Tapi si Abang belum juga pulang.
       Paginya, Didi bilang kalo semalam si Abang pulang jam setengah tiga pagi. Gue sendiri gak bisa bayangin, dini hari dua orang lelaki nonton film drama romantis, berasa geli aja gitu.

       Hasil pijatan si Abang, badan gue sih jadi enak. Tapi tangan gue gak sembuh, masih sakit sampai sekarang. Gue terancam gak bisa kerja, terancam gak punya duit, terancam jadi gembel. Maksudnya, lebih gembel dari sekarang. Mungkin ini semua karena gak ada yang ngingetin gue buat jaga kesehatan :(




Notes:

Buat yang nanya cerita di blog ini asli apa enggak, gue jawab: ya, asli. Semuanya berdasarkan kejadian nyata di hidup gue. Meski begitu, ada tambahan unsur komedi didalamnya. Nama yang diceritakan disini juga gue samarkan, atas inisiatif gue sendiri :D


Baca juga artikel lainnya:

Behind the Event of Baturraden Reunion

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 2

(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya

DEMAM TOGEL

MISTERI POCONG HITAM

ASAL JANGAN BAND METAL

MENCINTAI DALAM DIAM

Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja 

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2

BANDUNG LOVE STORY

BANDUNG LOVE STORY 2

BANDUNG LOVE STORY 3

Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya

Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)

Emm Uuu

Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

TIPS MENGHADAPI BEGAL

Tips Agar Kesan Pertama Saat Kencan Jadi Tak Terlupakan

Rabu, 18 Maret 2015

Behind the Event of Baturraden Reunion

       CERITA ini bermula dari lamunan gue. Meski lebaran selalu identik dengan hingar bingar keceriaan, tapi entah kenapa disaat lebaran tiba, pasti ada sesuatu yang gue rasa kurang. Gue coba liat kebawah, tapi semuanya lengkap kok. Gue pake celana kok. Gue coba nengok ke dalamnya, gue juga pake kolor kok. Terus apakah sesuatu yang kurang tersebut? Tidak lain dan tidak bukan, sesuatu itu adalah TEMAN.
       Mungkin ini cuma gue yang merasakan. Tapi jujur, gue kadang kangen sama temen SD gue. Karena gak mungkin gue kangen sama temen SMA gue, karena gue kan gak sampai SMA.

       Saat lebaran, memang cukup mudah untuk bertemu temen-temen SD gue. Tapi tentu gak semua temen bisa gue temui. Maka dari itu, gue adalah orang yang paling semangat buat mengadakan reuni SD gue. Karena gak mungkin gue mengadakan reuni SMA. Kan udah gue bilang tadi, gue gak SMA.
       Singkat cerita, 3 atau 4 tahun lalu (gue lupa), gue dan beberapa temen SD gue, sepakat untuk mengadakan reuni dan piknik ke Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah.

       Kita pun mematangkan rencana reuni ini. Pertama-tama gue, Burhan, dan Ucup, pergi ke warnet di bilangan Jatibarang, Brebes malem-malem. Kita bertekad akan membuat undangan pertemuan untuk semua temen SD alumni gue, SD Negeri Dukuhpayung 01. Sesampainya di warnet, kita bergumul (baca: berkumpul) didepan satu monitor. Burhan ditengah, Ucup disamping, gue jaga parkir (ya enggak lah!).
       "Gimana kalo bikin undangannya kayak undangan nikah aja. Jadi nanti disitu ditulis nama gue kawin sama Rachel Amanda. Pasti semua orang bakal datang dengan antusias hehe.." kata gue memberi ide ke Burhan dan Ucup.
       "Gimana..gimana? Bagus kan ide gue?..hehe" gue terus terkekeh.
       "Gimana kalo lo beli minum aja kedepan!" kata Ucup, kesel.
       "I..Iya deh." gue nurut. Mungkin itu bukan ide yang baik.

       Setelah memilih beberapa contoh undangan disebuah website, kita bertiga akhirnya menemukan undangan yang pas. File itu pun dibawa ke penjaga warnet (yang lebih mirip penjaga terminal) untuk di print.
       "Eh..ehh Ini udah? ujar gue sambil menunjuk ke arah monitor.
       "Udah, kan ini udah nemu undangannya." seru Burhan.
       "Tapi ini sayang, lho. Gue mau download lagu Sheila On 7 bentar ya?"
       "PON!! Udah malem!!" kata Ucup dengan nada sedikit tinggi.
       "O..oke kita pulang." gue merinding.

       Keesokan harinya, undangan di foto copy dan disebarkan. Pada tanggal dan jam yang sudah ditentukan di undangan, temen-temen SD gue pun berkumpul di rumah Burhan. Saat itu tepat malam takbiran. Dari 50 lebih undangan yang disebar, hanya ada sekitar 30 lebih anak yang datang.
       Burhan mulai berbicara tentang rencana reuni ini kepada temen-temen yang datang. Ada yang mendengarkan Burhan ngomong, ada yang asik ngegosip, ada juga yang sibuk nawar terkait iuran yang harus dikeluarkan setiap anak. Gue memaklumi, saat itu memang masih banyak anak yang masih sekolah. Jadi mungkin mereka keberatan dengan nominalnya. Sampai-sampai dari nominal yang semula 50 ribu, ada yang nawar 15 ribu. Disini kadang gue merasa sedih.

       Pertemuan yang menegangkan itu pun selesai. Karena gue, Burhan dan Ucup cowok yang baik hati (eghheemm), jadi kita meringankan iuran bagi temen-temen yang masih sekolah.
       Sehabis pertemuan, gue, Burhan, Ucup dan dua temen gue yang lain, langsung pergi ke Pangkah, Slawi. Kami berniat untuk mencari bus buat kendaraan reuni nanti. Karena malam itu adalah malam takbiran, jalanan pun penuh dengan kendaraan. Banyak orang yang takbir keliling. Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Tapi justru Burhan terlihat kebingungan. Gue juga bingung. Karena yang terlihat sejauh mata memandang, hanyalah tanah kosong yang luas dan gelap (sama seperti hati jomblo yang lama tak berpenghuni). Intinya kami semua bingung.
       "Mana bus-nya? Kok gak ada? tanya gue.
       "Gak tau, katanya sih disini ada." jawab Burhan.
       "KATANYAAA?? Kita jauh-jauh kesini cuma karena 'katanya'? ujar Ucup sewot.
       "Udahlah, yang penting kita kan udah berusaha." temen gue yang lain menengahi.
       "Makanya lain kali kalo dapet info itu diselidiki dulu, berdasarkan fakta atau cuma gosip!" Ucup mulai lapar.
       "Iya deh." kata Burhan.
       "Kita coba cari lagi aja, muter-muter. Mungkin disekitar sini ada." ajak gue.
       Kami semua sepakat dan mulai nyari lagi muter-muter disekitaran Pangkah tersebut. Tapi sungguh usaha yang sia-sia. Kami gak menemukan apa yang dicari. Kemudian kami pun pulang.

       Besoknya setelah berlebaran, gue dan temen-temen gue kumpul lagi. Membahas problem yang sama: soal bus. Gue dan temen-temen juga disibukkan dengan datang kerumah-rumah anak yang belum ngasih iuran. Dengan muka gue yang gembel seperti ini, gue ngerasa mirip seperti orang minta sumbangan. Tapi demi tercapainya acara ini, hal hina seperti ini tetap gue lakukan.
       Paginya gue dan temen-temen (biasa) nyari bus lagi. Kali ini tujuan kami ke Ketanggungan, Brebes. Ini bisa dibilang kesempatan terakhir kami. Karena kami sudah terlanjur janji ke semua temen, kalo besoklah hari kami semua berangkat ke Baturraden. Sebelumnya, gue dan temen-temen pengurus reuni ini, bukan tanpa usaha. Kami selalu mencari info kesana kemari. Tapi karena mungkin waktunya yang terlalu mepet, jadi sangat sulit mendapatkan bus.
       Selama perjalanan menuju Ketanggungan, gue gak henti-hentinya celingukan ke kanan kiri. Berharap ada yang bisa membantu kami. Celingukan gue pun membuahkan hasil. Gue melihat sebuah tempat penyewaan bus pariwisata. "Gak sia-sia leher gue celingukan sampai lentur gini." pikir gue.
       Tempat tersebut pun kami masuki. Tapi kata orangnya, bus udah full booking. Untuk kesekian kalinya, gue sedih. Gue bener-bener tegang, kalau-kalau nanti gak dapet busnya. Mungkin memang inilah yang terjadi kalo segala sesuatunya dikerjakan mendadak.
       Akan tetapi, perjuangan kami gak sampai disitu. Gue dan temen-temen terus melanjutkan perjalanan. Gue juga tetep nengok kanan kiri. Dijalan yang kami lalui, cukup sering kami melihat bus yang terparkir dijalan. Beberapa bus yang terparkir tersebut juga kami datangi. Kami tanya orang yang bersangkutan. Tapi tetep gak bisa, karena udah ada yang pesen. Sampai di Ketanggungan juga gak ada bus yang bisa bantu kami. Lalu sejenak kami beristirahat.
       "Gimana nih, gak dapet-dapet juga. Musti nyari kemana lagi?" tanya Ucup yang mulai lelah.
       "Ke Tegal aja, yuk!" jawab Burhan.
       "Losari aja mumpung sejalur." temen gue yang lain menambahkan.
       "Sampai ke Cirebon kalo perlu." tambah temen gue yang lain juga.
       "Ke warung nasi aja dulu, yuk! Laper nih." kata gue gak nyambung. Gue yang memang dari pagi belum sarapan, ngerasain laper banget saat itu.

       Kami semua akhirnya makan dulu di sebuah warung nasi. Setelah itu, kami melanjutkan lagi pencarian bus itu. Sampai sore hari, gak ada juga bus yang menyanggupi. Kami pun pulang dengan kemalangan yang menyelimuti.
       Malam pun tiba. Kami selaku pengurus, sangat amat dirundung ketegangan. Cukup sering juga kami saling menyalahkan satu sama lain. Sempat terlintas kami akan mengembalikan uang iuran dan membatalkan acara ini. Jujur, gara-gara acara ini gue jarang pulang ke rumah. Kadang aku ngerasa kangen sama nenek gue. Kadang juga aku ngerasa seperti lagi LDRan sama nenek gue.

       Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Kami masih berdiskusi, mencari jalan yang terbaik. Kami semua bingung. Apa kata temen-temen nanti kalo sampai acara ini gagal. Pasti gue dan temen pengurus lainnya sangat malu. Terutama gue. Karena selain gue yang paling semangat disini, gue juga jelek (lho, gak nyambung!).
       Tak berapa lama, kabar baik kami terima: ada kenalan bokapnya Burhan yang mungkin bisa bantu. Si kenalan bokapnya Burhan pun bersedia mencarikan bus malam itu juga. Tanpa pikir panjang, Burhan dan si kenalan bokapnya Burhan berangkat ke daerah barat Pantura, Brebes. Mereka berdua naik motor. Untung aja saat itu trend begal belum ada. Jadi walaupun tengah malem, mereka dengan jumawa pergi ke tujuan.

       Gue dan temen-temen lain menunggu si Burhan dengan cemas. Bokap Burhan yang turut cemas juga menunggu bersama kami. Jam satu malam, Burhan belum kembali. Harapan kami sih mereka berhasil mendapatkan bus. Tapi harapan yang justru sangat besar: mereka kembali dengan selamat.
       Jam dua dini hari, Burhan belum juga kembali. Kami yang menunggu di teras rumah Burhan, sangat cemas. Entah kenapa, saat itu gak ada rasa kantuk yang kami semua rasakan. Udara malam yang amat dingin pun seperti gak terasa. Kopi panas juga terasa biasa dan sangat cepat abis. Imbasnya, kami menghabiskan banyak kopi malam itu.
       Memasuki jam tiga, akhirnya Burhan pulang dengan selamat. Dan kabar baiknya, dia berhasil mendapatkan bus. "Yeeessss" teriak gue dalam hati. Gue seneng banget. Kami semua haru dibuatnya. Sungguh penantian yang berbuah manis. Hampir saja kami semua akan berpelukan. Tapi niat itu kami urungkan, demi menghindari tumbuhnya benih-benih cinta diantara kami.
       Besoknya, hari besar itu pun tiba. Selesai siap-siap, gue berangkat ke rumah Burhan. Tapi hal mengejutkan terlihat: ini bus apa mobil? Kecil banget!! Gue sempet protes ke Burhan. Tapi dia bilang dengan nada sayu: "Cuma ini Pon yang bisa. Inilah yang bisa kita usahakan." Gue cuma menyadari betapa buruknya persiapan kami. Gue pikir akan semudah nyari truk. Ternyata ini lebih susah dibanding nyari pacar.
       Alhasil, bus segede mobil itu sangat penuh. Kursi mobil hanya sekitar 20. Sedangkan anak yang ikut lebih dari 30. Semua anak cowok gak dapet duduk karena satu kalimat ajaib: Ladies First. Yaudah akhirnya semuanya kacau. Piknik yang kami pikir akan menyenangkan, malah membuat kami semua trauma. Yang efeknya, semenjak reuni itu, kami gak pernah mengadakan reuni lagi.






Ucapan penutup:

       Buat semua temen-temen yang ikut reuni ini dulu, gue minta maaf. Kami menyadari betapa buruknya persiapan kami. Saat itu kami masih ABG, kami labil, kami masih berfikir pendek kala itu. Kami fikir bakal semudah seperti reuni pake truk ditahun sebelumnya. Maaf sekali lagi. Gue tau pasti kalian gak merasa bahagia :'(

       Buat keluarga Burhan, makasih karna sudah bersedia direpotkan. Makasih buat tempatnya. Buat bokap Burhan juga makasih sudah bersedia dengan sabar membantu kami. Makasih :')

       Buat temen-temen pengurus, Burhan, Birin, Kluning, dan yang lainnya, makasih sudah mau dipusingkan, sudah mau capek. Walaupun hasilnya kurang, tapi gue seneng bisa mewujudkannya. Gue seneng kalian bisa merasakan apa yang gue rasakan: rasa ingin bersama. Buat Ucup juga makasih banget. Karena temen gue yang inilah, yang paling banyak keluar duit. Makasih ya :')

       Dan buat semua alumni SD gue, hanya satu kalimat: GUE KANGEN KALIAN. Karena gak mungkin gue kangen sama temen SMA gue, iya kan? Mudah-mudahan kalian bisa merasakan, mana tulisan biasa, dan mana tulisan yang dari hati :')







Baca juga artikel lainnya:

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 2

(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya

DEMAM TOGEL

MISTERI POCONG HITAM

ASAL JANGAN BAND METAL

MENCINTAI DALAM DIAM

Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja 

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2

BANDUNG LOVE STORY

BANDUNG LOVE STORY 2

BANDUNG LOVE STORY 3

Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya

Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)

Emm Uuu

Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

TIPS MENGHADAPI BEGAL

Tips Agar Kesan Pertama Saat Kencan Jadi Tak Terlupakan

Senin, 16 Maret 2015

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 2

       PERSAHABATAN gue sama Ari dan Hisam semakin dekat. Hampir setiap hari gue main sama mereka. Kami sering nonton kartun saat minggu pagi. Hingga kami terpengaruh oleh acara TV yang kami sukai. Contohnya ketika kami suka sama Power Rangers, kami pun suka pura-pura jadi Power Rangers dan ingin menyelamatkan mahluk bumi. Saat kami suka Dragon Ball, kami sering main berantem-beranteman pake jurus Kamehameha. Saat kami suka Tuyul Dan Mbak Yul, kami mulai sering nyolong (ya enggak lah!)
       Tapi yang paling 'gila' adalah ketika kami suka banget sama Kera Sakti. Kami sampai ingin melakukan perjalanan ke Barat untuk mengambil kitab suci. Sama seperti yang dikisahkan serial TV tersebut. Hal ini tercetus sama Ari, yang memang memiliki imajinasi yang cukup 'liar'. Saat itu disebuah pekarangan pinggir sawah yang banyak pohon rindang, kita bertiga berkumpul. Kita duduk berhadap-hadapan.
       "Gue pengen jadi Kera Sakti." ungkap Ari. "Punya tongkat sakti, punya Awan Kinton, hebat." imbuh Ari yang mulai berkhayal, karena mengagumi sosok Sun Go Kong tersebut.
       "Iya yah, terus bisa berubah wujud lagi..keren." ujar Hisam.
       "Bisa menghajar para siluman juga ya. Terus pergi ke Barat ngambil kitab suci." kata gue.
       "Tapi ke Barat itu kemana ya?" tanya Hisam.
       "Iya juga ya, kemana tuh, Ri?" tanya gue.
       Ari mikir. Sejenak dia diam. Lalu kemudian, "Ke Barat itu jauh. Dan perjalanannya sangat berbahaya."
       "Oohhh.." seru gue dan Hisam.

       Kita bertiga sebenarnya gak tau "Perjalanan ke Barat" itu kemana.

       "Andai aja kita jadi mereka ya." kata Ari. "Gue jadi Sun Go Kong." lanjutnya.
       "Gue Wu Jing." kata Hisam dengan cepat.
       "Dan lo Cu Pat Kai, Pon!" ujar Ari dengan cepat juga.
       "Lho kok gue Pat Kai sih? Harusnya lo dong, Sam. Lo kan gendut, lebih pantes."
       "Gak mau, kan gue duluan tadi."
       "Yaudah gue yang jadi guru Tong Sam Cong deh."
       "Eh..eh gak bisa gitu dong." potong Ari disela berdebatan gue dan Hisam. Ari melanjutkan, "Guru Tong itu Biksu, dia orang suci. Kita bertiga gak ada yang pantes jadi dia. Lagian Pat Kai juga dulunya ganteng kok. Kita bertiga kan sama-sama punya niat mulia, jadi gak usah ribut deh."
       "Iya deh, gak papa gue jadi Pat Kai." kata gue terpaksa.
       "Nah, gitu dong." ujar Ari.
       "Iya gitu." imbuh Hisam yang mulai terlihat ngeselin dimata gue.

       Perebutan menjadi seorang tokoh di TV memang sering terjadi diantara kami. Misalnya saat kami bertiga nonton Power Rangers, pasti kita rebutan buat jadi Rangers Merah. Rangers Merah memang yang paling kami idolakan. Sebuah kebanggaan apabila gue bisa jadi Rangers Merah dan diakui sama Ari dan Hisam. Biasanya, siapa cepat, dialah yang berhak menjadi Rangers Merah. Tapi setiap gue berhasil mengungguli kecepatan Ari dan Hisam saat memilih Rangers Merah tersebut, pasti gue gagal dengan hanya mantra ajaib si Ari: TV nya gue matiin yah? Karena memang cuma Ari yang punya TV saat itu. Jadi yaudah gue terpaksa jadi Rangers mana aja, yang penting bisa nonton.

       "Yang jadi guru Tong siapa dong nanti?" tanya Hisam.
       "Gue belum tau, mudah-mudahan nanti Dewi Kwan Im memberi kita petunjuk." jawab Ari. Kemudian Ari berdiri, dia mengambil ranting pohon sepanjang satu meteran.
       "Nih liat!" kata Ari. Dia mulai memainkan kayu tersebut. Seperti pendekar kungfu, tapi dengan gerakan yang kaku. Dia terus melakukan gerakan-gerakan menirukan Kera Sakti dan tongkat saktinya.
       "Waahhh." gue dan Hisam terpukau melihatnya. Kita kagum dengan teman kita yang ternyata bisa kungfu. Padahal kalo diingat lagi, gerakannya lebih mirip nenek-nenek lagi mukul jambret.
       Si Ari semakin menjadi dengan benda yang dianggap tongkat sakti ditangannya. Kemudian tiba-tiba, plaakkk.. kepala bagian belakangnya kena kayu tersebut.
       "Aawww.." jerit Ari. Lalu dia bilang dengan menahan sakitnya, "Tenang, gak papa."
       Gue dan Hisam cuma manggut-manggut.

       Walaupun gue selalu di-nomor-tiga-kan dalam pertemanan ini, tetapi gue cukup senang berteman dengan mereka. Terutama sama Ari. Dialah yang memiliki angan-angan aneh, tapi seru. Gue dan Hisam selalu terbawa dalam imajinasinya. Mungkin kalo dipikir-pikir sekarang, hal-hal yang gue lakukan sama Ari dan Hisam terdengar bodoh. Tapi jujur, gue kadang ketawa sendiri saat mengingatnya, termasuk saat gue nulis postingan ini.
       Gue, Ari dan Hisam, berteman baik. Kita selalu bertiga di sekolah maupun sepulang sekolah. Saat kita bertiga naik kelas tiga, gue terpisah kelas sama mereka. Gue di kelas 3C, sedangkan Ari dan Hisam masih satu kelas di 3A. Walau begitu, kita tetep masih bersama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah, masih bersahabat baik.
       Sampai akhirnya, saat Catur Wulan 1 (semester) selesai, nyokap gue ngomong kalo gue mau dipindahkan lagi ke Dukuhpayung. Gue sendiri sebenarnya memang ingin ke Dukuhpayung lagi. Dengan alasan yang (lagi-lagi) gak bisa gue ungkap disini.

       Suatu hari saat pulang sekolah, gue bilang ke Ari dan Hisam kalo gue mau pindah sekolah lagi ke SD gue dulu. Mereka sedih mendengarnya. Entah karena sedih beneran, atau sedih karena nanti gak ada lagi yang bisa mereka 'tindas'. Gue gak tau, yang jelas biar bagaimanapun, mereka teman terbaik saat gue di MIN Slarang Kidul itu.
       Keesokan harinya, gue berangkat sekolah naik sepeda sama nyokap gue. Nyokap mau mengurus kepindahan gue. Di sekolah ini, saat ada murid yang akan pindah sekolah, harus pamitan dulu ke semua temen sekelasnya. "Datangnya baik, perginya juga harus baik." kata guru gue. Akhirnya gue pun pamit ke semua temen sekelas gue. Gue ngomong di depan kelas, seperti saat gue baru masuk ke sekolah ini, berpamitan ke mereka. Tapi sayang, gue gak sempat pamit ke Ari dan Hisam. Kerena kita beda kelas.
       Gue pun berjalan melangkah keluar kelas. Ditemani Nyokap, gue beranjak pergi dari sekolah itu. Saat melintas didepan kelas 3A (kelasnya Ari dan Hisam), gue berhenti sejenak didepan pintu kelas. Gue melihat kedalam. Ari dan Hisam sedang belajar. Kemudian mereka melihat gue. Gue mengangguk kecil ke mereka. Karena takut nangis, gue cepet-cepet melangkah meninggalkan kelas tersebut. Di gerbang sekolah, nyokap siap-siap meng-goes sepedanya. Gue diboncengnya keluar dari gerbang sekolah. Sepeda mulai melaju ke jalanan depan sekolah. Saat mulai jauh dari sekolah, gue menengok ke arah sekolah. Gue terkejut ketika ternyata Ari dan Hisam berdiri berpegangan gerbang sekolah, melihat gue yang semakin jauh. Tak kuasa, air mata mulai menetes di pipi gue. Saat itulah gue untuk terakhir kalinya melihat mereka. Karena di hari itu juga, gue berangkat ke Dukuhpayung. Sampai sekarang, gue gak pernah lagi melihat Ari dan Hisam. Saat gue ingin main ke rumah mereka, gue selalu mikir: "Ah gue cuma temen satu setengah tahun mereka, pasti mereka udah lupa."

       Kembali ke SD Dukuhpayung. Gue masuk dikelas 3. Rasanya seperti balikan sama mantan. Walaupun dulu gue pernah tinggal disitu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang 'beda'. Mungkin karena gue udah sempat mengenal orang 'baru'. Walaupun begitu, gue gak lagi harus beradaptasi. Karena tempat yang 'lama', sudah pernah mengenal gue.




Sekian :')





Baca juga artikel lainnya:

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1

(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya

DEMAM TOGEL

MISTERI POCONG HITAM

ASAL JANGAN BAND METAL

MENCINTAI DALAM DIAM

Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja 

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2

BANDUNG LOVE STORY

BANDUNG LOVE STORY 2

BANDUNG LOVE STORY 3

Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya

Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)

Emm Uuu

Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

TIPS MENGHADAPI BEGAL

Tips Agar Kesan Pertama Saat Kencan Jadi Tak Terlupakan

      

Kamis, 12 Maret 2015

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul

       SAAT masih kelas dua SD, gue pernah pindah sekolah di desa orang tua gue tinggal. Sebelumnya, gue sekolah di SD Negeri Dukuhpayung 01 dan tinggal bersama nenek gue. Tapi karena alasan yang tidak bisa gue jabarkan disini, gue akhirnya dipindahkan ke orang tua gue di desa Slarang Kidul, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Indonesia, planet Bumi, sebelah planet Mars, dan di galaksi Bimasakti (kali aja kamu alien dari galaksi lain)
       Setelah tinggal disana, gue dimasukkan ke MI Negeri Slarang Kidul. Sekolahnya bagus, beda jauh dengan SD gue sebelumnya. Bangunannya berlantai dua. Ruang kelasnya pun terbilang banyak. Karena satu kelas dibagi menjadi tiga, yaitu: kelas A, B, dan C. Jadi didalam satu ruang kelas, hanya ada 30-an murid. Tidak seperti di SD Dukuhpayung yang sampai 70 murid dalam satu kelas. Yang mana sudah bisa ditebak: sempit dan gak nyaman buat belajar. Saat nulis di meja kelas juga kita harus menurunkan satu tangan kebawah, supaya gak 'makan' tempat.

       Hari pertama di sekolah baru berjalan cukup baik. Gue dimasukkan ke kelas 2B. Pertama-tama, guru meminta gue memperkenalkan diri kepada temen-temen.
       "Perkenalkan, aku Popon Sutrisno. Biasa dipanggil Popon. Aku murid baru, baru pindah." kata gue didepan kelas.
       Setelah perkenalan yang amat sangat bodoh itu, gue pun mulai belajar. Suasana kelas tenang dan nyaman. (Lagi-lagi) beda dengan SD Dukuhpayung yang bising saat jam pelajaran. Guru pengajarnya juga enak banget kalo ngajar. Kenyamanan yang turut gue rasakan juga saat mata pelajaran kesenian. Dimana murid satu kelas akan dipindahkan ke ruang kelas khusus yang tidak ada bangku didalamnya dan hanya ada karpet bersih. Misalnya saja saat pelajaran menggambar. Gue bisa sambil tidur-tiduran saat itu. Gurunya juga enak banget. Guru akan selalu memuji setiap apa yang kami gambar. Gambar gue yang cuma dua gunung dengan satu matahari ditengahnya, juga tak luput dari pujiannya. Karena itulah gue merasa jago menggambar. Padahal setelah gue besar sekarang, gue gak sengaja menemukan buku gambar gue saat sekolah disitu. Isinya sangat mencengangkan. Gue pernah menggambar bendera Indonesia dengan warna pink dan putih, berkibar disebuah tiang. Ini tentu menghilangkan kesan 'pemberani' di bendera Indonesia. Karena diganti dengan kesan 'unyu'. Sejak saat itu gue menyadari sesuatu bahwa: pujian tidak selalu berdampak baik.
       Saat jam istirahat di hari pertama, gue selalu sibuk membanding-bandingkan sekolah baru dengan yang lama. Dan dimata gue, sekolah baru ini selalu lebih baik dan lebih 'komplit' daripada yang lama. Ada perpustakaan yang cukup besar disana, lapangan basket, dan Drum Band yang mana saat itu cuma sekolah tersebut yang memilikinya di desa itu.
       Setelah gue besar sekarang, gue pikir, kebiasaan membanding-bandingkan ini mirip seperti kasus dalam hal pacaran. Dimana ketika kita baru saja jadian, kita masih sibuk membanding-bandingkan pacar baru kita dengan mantan. Saat membandingkan, kita gak pernah tau pasti mana yang lebih baik. Yang jelas, dia hanya lebih 'baru' buat kita. Dan kita cenderung lebih tertarik akan hal yang 'baru'. Sehingga yang 'lama' terlihat 'biasa'.

       Hari-hari terus berlalu.
       Seperti murid pindahan baru pada umumnya, gue lebih pendiam. Saat istirahat, gue banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Bagi anak SD, perpustakaan memang bukan tempat yang lazim untuk dimasuki. Karena mereka lebih suka main daripada baca. Sebenarnya gue juga pengen main sama temen-temen sewaktu istirahat. Tapi sifat gue yang pendiam ini cukup menyulitkan gue untuk mendapatkan temen.
        Pada suatu hari, tibalah saat dimana gue merasa harus punya temen. Lama-lama bosen juga di perpustakaan. Lagian gue terlihat culun abis pasti. Gue mulai merubah kebiasaan gue. Dari yang awalnya di perpustakaan saat istirahat, gue jadi sering nongkrong di kantin sekolah. Suatu hari saat di kantin, gue melihat temen sekelas gue Ari dan Hisam. Mereka duduk berdua di sebuah meja. Gue gak pernah kenalan sama siapa pun di sekolah. Tapi gue tau semua nama temen sekelas gue berkat absensi yang dilakukan setiap hari.
       Gue pun memberanikan diri mendekati mereka, yang masing-masing sedang makan sepiring siomay. Ari anaknya kurus, sedangkan Hisam gemuk dan gempal.
       "Maaf, gue boleh gak ikut duduk sama kalian?" kata gue.
       "Iya, duduk aja!" jawab Ari dengan sedikit senyum.
       "Duduk, iya duduk silahkan." kata Hisam, girang.
       "Makasih." kata gue, senang.
       "Tumben lo gak ke perpus?" tanya Ari ke gue. "Biasanya betah lo disana." imbuhnya.
       "I...iya lagi bosen aja."
       "Lo tuh culun banget tauk gak!" timpal Hisam sambi mengunyah siomaynya.
       "Gitu ya?"
       "Iyalah, baca mulu kerjaannya. Sekali-kali main dong sama kita!"
       "Ya namanya juga anak baru, jadi masih malu-malu. Iya kan, Pon?" tanya Ari.
       "Iya." jawab gue singkat.

       Kita bertiga banyak ngobrol dan bercerita ngalor ngidul saat itu.
       Semenjak obrolan gue sama Ari dan Hisam di kantin, kita jadi tambah akrab. Gue jadi punya temen main. Gue juga sering pulang bareng mereka. Gue sering main ke rumah mereka. Lama kelamaan gue tau karakter mereka. (Tapi gak sampai jadian lho ya!)
       Ari itu anaknya banyak tau, tapi cenderung sok tau. Sedangkan Hisam, dia cuma tau kalo siomay di sekolah enak banget.
       Ke-sok-tauan Ari bisa dilihat saat dia bilang kalo ikan suka makan bawang putih. Entah darimana Ari bisa menyimpulkan hal ini. Yang jelas pada sebuah minggu sore, gue, Ari dan Hisam pergi mancing di sebuah kali deket rumah kita. Tugasnya selalu sama: Ari dan Hisam mancing, sedangkan tugas gue bisa dibilang cukup hina, yaitu nyari cacing buat umpan.
       Kita pun mancing, duduk disebuah bebatuan, menunggu ikan menyambar umpan kita. "Ssssssttttt jangan pada ngomong, nanti ikannya denger!" kata Ari sesaat sebelum mencemplungkan umpan ke kali.
       Gue sama Hisam mengangguk ke Ari.
      
       30 menit berlalu dengan keheningan. Tapi umpan tak kunjung di sambar ikan. Kita terus menunggu dengan sabar. Barulah setelah hampir satu jam, Hisam berani ngomong. "Mungkin airnya terlalu jernih, jadi ikannya liat kita." Mendengar itu, gue refleks nengok ke Ari. Ari juga ngeliat gue.
       Air di kali ini memang jernih banget saat kemarau. Itu sebabnya banyak orang yang mencuci baju di kali. Bahkan sampai sekarang juga masih ada orang yang mencuci di situ. Gak jarang ketika orang lagi nyuci, dia menghindar dari tahi yang lewat didepannya tanpa permisi.
       "Kayaknya bener kata Hisam deh, Ri. Airnya jernih banget." kata gue. Si Ari terlihat mikir sejenak, dan tiba-tiba:
       "Oke, kita merunduk!"
       "Me..merunduk?" kata gue kaget.
       "Iya, biar ikannya gak liat kita."
       "Tapi Ri, ini kotor."
       "Udah cepetan!"
       "Ta..tapi Ri."
       "Liat tuh Hisam, dia nurut!" Ari nunjuk Hisam yang ternyata sudah tengkurap. Dengan terpaksa gue pun ikut tengkurap, begitu pula Ari.

       Kita bertiga tengkurap dengan bodohnya, menunggu ikan menyambar umpan. Kalo ada orang yang liat saat itu, mungkin kita dikira buaya yang berpakaian.
       Hasilnya, tetep! Ikan enggan makan umpan kita. Sebenarnya, sempat ada ikan yang narik-narik umpan kita, tapi pas di angkat malah cuma cacingnya aja yang ilang, ikannya gak dapet.
       Hampir 2 jam kita mancing, tapi gak ada tanda-tanda kalo kita bakal dapet ikan. Akhirnya kita bertiga pulang dengan baju yang kotor. Apes banget deh.

       Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Ari dan Hisam ke rumah gue. Kemudian gue langsung diajak lagi mancing di kali. Sesampainya di kali, gue bersiap-siap mau nyari cacing. Tapi Ari mencegat:
       "Eh mau ngapain lo?"
       "Nyari cacing lah." kata gue.
       "Gak usah! Kita ganti umpan kita dengan ini." Ari menunjukkan beberapa siung bawang putih dari sakunya.
       "Bawang putih, emang bisa?" tanya gue, heran.
       "Bisa dong." kata Hisam yakin.
       "Lo tau dari siapa emang, Sam?"
       "Kata Ari." jawabnya datar.
       "Udah kita coba aja dulu." ujar Ari seraya menyiapkan pancingannya.

       Dengan penuh keraguan, gue pun mulai memotong bawang putih itu ke bagian kecil-kecil. Ditancapkanlah bawang putih itu ke kail. Kemudian kita mulai mancing. Dan seperti biasa: kita bertiga merunduk.
       Menit berlalu hening. Harapan kita mendapatkan ikan sangat besar saat itu. Tapi setelah setengah jam, ikan tetep gak menjamah umpan kita. Dan seperti kemarin juga: kita sabar menunggu. Hingga satu jam kemudian, tiba-tiba Ari berdiri. Dia berjalan menjauh dari kali. Kemudian dia membawa satu batu besar, sebesar kepala. Lalu...byuuaaarrrrr.. Batu tersebut dilemparnya ke kali, di tempat dimana kail kita berada. "Kita pulang!" kata Ari yang terlihat sangat kesal. Gue dan Hisam bergegas membereskan alat pancing kita. Kemudian kita bertiga pulang.




Bersambung...





Baca juga artikel lainnya:

(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya

DEMAM TOGEL

MISTERI POCONG HITAM

ASAL JANGAN BAND METAL

MENCINTAI DALAM DIAM

Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja 

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2

BANDUNG LOVE STORY

BANDUNG LOVE STORY 2

BANDUNG LOVE STORY 3

Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya

Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)

Emm Uuu

Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

TIPS MENGHADAPI BEGAL

Tips Agar Kesan Pertama Saat Kencan Jadi Tak Terlupakan

Selasa, 10 Maret 2015

Tips Agar Kesan Pertama Saat Kencan Jadi Tak Terlupakan

Perbincangan dengan teman kencan selama ini lewat pesan teks sudah berjalan dengan lancar. Lalu, bagaimana ketika bertemu? Tak jarang pertemuan pertama bisa sangat mengintimidasi. Bagaimana harus bersikap, apakah baju ini cocok dipakai, dan tentu cara untuk memberi kesan yang tak terlupakan di pertemuan pertama itu. Jika Anda tengah mengalami hal ini dan mencari solusi, beberapa tips berikut mungkin dapat membantu Anda.

1. Kesan apa yang ingin ditampilkan?
Sebelum bertemu dengannya, tentu Anda sudah mengenal sedikit tentang si teman kencan. Lihat bagaimana perbincangan Anda dengannya di media sosial, dan tentukan imej apa yang ingin Anda perlihatkan terlebih dulu. Misalnya membuat imej bahwa Anda adalah calon pasangan potensial, atau wanita yang humoris, menyenangkan dan juga elegan. Namun ingat, semua karakter tadi adalah bagian dari diri sendiri sehingga tak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

2. Berpikiran positif
Mereka yang membuat impresi bagus di awal pertemuan adalah orang yang terlihat positif akan dirinya. Jadi ingatkan diri Anda bahwa Anda nyaman dengan diri sendiri dan buang segala keresahan yang membuat Anda terlihat berpikir terlalu banyak. Lagipula, tak ada yang mau mendengar keluhan seseorang yang tak mengenakkan di kencan pertama, bukan?

3. Kontrol suara
Jaga intonasi suara Anda saat berbincang. Meski Anda termasuk wanita yang ramai, namun mengeluarkan nada keras di kencan pertama justru bisa membuat pria ilfill.

4. Tersenyum
Riasan yang paling bagus dari seorang wanita adalah senyumannya. Anda bisa mencoba ungkapan tersebut di dunia nyata, khususnya saat bertemu dengan orang baru. Meskipun nantinya kencan tak berjalan sesuai rencana, setidaknya ia melihat Anda sebagai gadis yang ramah dan murah senyum.

5. Belajar mendengarkan
Apapun kondisinya, komunikasi tetap menjadi kunci bagi segala hal. Atur bicara Anda dan jadilah pendengar yang baik. Buat si teman kencan merasa didengarkan. Tanggapi ucapannya, atau ajukan pertanyaan padanya. Sebaiknya obrolan harus seimbang, dan jangan terlalu banyak mengumbar masalah pribadi Anda saat ini, apalagi bicara tentang mantan.

(als/als)

Sumber: wolipop





Baca juga artikel lainnya:

(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya

DEMAM TOGEL

MISTERI POCONG HITAM

ASAL JANGAN BAND METAL

MENCINTAI DALAM DIAM

Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja 

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2

BANDUNG LOVE STORY

BANDUNG LOVE STORY 2

BANDUNG LOVE STORY 3

Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya

Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)

Emm Uuu

Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

TIPS MENGHADAPI BEGAL

Jumat, 06 Maret 2015

TIPS MENGHADAPI BEGAL

       ENTAH kenapa sejak begal diberitakan pertama kali di televisi, malah semakin banyak begal pendatang baru bermunculan. Gue rasa, pemberitaan itu membuat para pemuda jomblo pengangguran, merasa mendapatkan ide. Sehingga mereka memutuskan untuk terjun ke dunia per-begal-an. Selain mudah, mungkin mereka pikir, begal adalah profesi yang menjanjikan daripada kerja di pabrik. Akhirnya, di Indonesia banyak sekali begal. Saking banyaknya, sampai ada begal yang di begal. Keras memang.

       Hal ini tentu membuat resah masyarakat Indonesia. Dimana-mana ada begal. Gue takut nanti begal ini malah dijadikan sebagai gaya hidup. Orang Indonesia itu terkenal narsis. Dan selalu mengikuti hal yang lagi tren saat ini. Bukan tidak mungkin, kalo nanti orang-orang ada yang iseng main begal-begalan. Tapi mungkin juga tidak. Karena bisa-bisa, mereka pulang dari main begal-begalan, udah jadi begal bakar.
       Begal bakar? Kedengarannya seperti nama menu makanan ya? Tapi bukan tidak mungkin juga sih, kalo nanti ada restoran yang menyajikan menu ini. Menu makanan di Indonesia kan terkenal unik-unik. Mungkin nanti ada menu yang bernama: begal bakar saus tiram, atau yang suka pedes: begal bakar mercon. Gitu deh.

      Sebenarnya gue mau membagikan tips supaya bisa terhindar, atau bahkan dapat membasmi kejahatan begal ini. Berikut tipsnya:

1. JANGAN PAKE MOTOR
       Pertama dan paling utama adalah jangan pake motor. Karena dengan begini, kamu tidak akan kena begal. Saran gue, mending naik angkot atau angkutan umum lainnya. Kalaupun nanti kamu di todong saat di angkot, percayalah..itu bukan begal, cuma rampok biasa.

2. SELALU WASPADA
       Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan (kata Bang Napi). Maka, selalu waspadalah! Walaupun pada waktu siang ataupun malam, saat rame ataupun sepi.
       Kata siapa begal hanya ada saat malam dan situasi sepi? Di siang hari dan saat rame juga ada loh. Contohnya gue. Saat itu gue lagi naik motor di bilangan jalan Pasir Kaliki Bandung, di siang hari. Saat berhenti di lampu merah Pasteur (saat itu jalanan rame banget), terjadi hal yang tidak gue inginkan. Yaitu: GUE DI BEGAL!! Gue dimintai duit. Buat yang pengen tau ciri-ciri begal tersebut adalah: ibu-ibu, berpakaian lusuh, terlihat kotor, dan berjalan dengan satu tangan menengadah.

3. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
       Buat pemerintah, tolong tambahkan infrastruktur di jalan yang sepi. Hal yang paling dibutuhkan di jalan sepi adalah: adanya makam keramat. Bangunlah beberapa makam keramat di pinggir jalan yang sepi. Biar menambah kesan menyeramkan, gunakan jasa acara Mister Tukul Jalan-jalan. Acara TV ini berguna untuk merekayasa makam keramat tersebut. Supaya bisa menipu semua orang bahwa makam keramat itu mempunyai sejarah yang sangat amat menyeramkan.
       Dengan adanya makam keramat yang sudah di rekayasa sedemikian rupa, tentu semua orang akan takut melewati jalan tersebut saat malam. Dengan tidak adanya orang lewat, tentu tidak ada begal disana. Kecuali begalnya berniat untuk berziarah.

4. JANGAN BERTINGKAH ANEH
       Ini penting banget. Ketika kamu sedang di begal, janganlah bertingkah aneh. Seperti merayu si begal: bapak kamu begal ya? Percayalah, itu tidak berguna sama sekali. Tetaplah tenang, jangan panik. Utamakan keselamatan nyawa kamu. Ketika senjata sudah di todongkan ke kamu, nyanyikan lagu religi. Tujuannya, mudah-mudahan si begal akan sadar dan mengurungkan niatnya untuk membegalmu. Kemudian si begal akan pulang dan bertaubat. Tapi jika tidak berhasil, setidaknya dengan menyanyikan lagu religi, kamu bisa mati dengan tenang.

5. JANGAN BAWA MANTAN
       Selain tidak akan membantu, bawa mantan juga tidak ada gunanya saat kamu di begal. Jadi, buanglah ditempat yang seharusnya!!

Oke itulah beberapa tips supaya terhindar dari kejahatan begal. Tapi gue tau kalo itu gak penting. Jadi, semoga terhibur aja :D




Baca juga artikel lainnya ya:

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

Kamis, 05 Maret 2015

PEMIMPIN CILIK

      TANAH liat, mobil-mobilan bambu, tembak-tembakan dari batang daun pisang, adalah beberapa mainan saat gue SD dulu. Anak kecil seperti gue dulu, dituntut untuk bisa membuat mainan sendiri. Sebenarnya ada mainan yang biasa dijual di pasar. Tapi kebanyakan para orang tua zaman dulu di desa gue (Dukuhpayung), enggan membelikan anaknya mainan. Selain harganya yang mereka pikir mahal, mereka juga berfikir kalo bisa buat sendiri, kenapa harus beli?
       Tapi setelah gue gede sekarang, gue tau kalo sebenarnya orang tua dulu sangat pelit dalam hal membelikan mainan anaknya. Karena gue inget, saking pelitnya mereka, sampai ada satu bapak-bapak (tetangga gue dulu), yang berani mengusir penjual es krim keliling yang berhenti didepan rumahnya. Bapak tersebut tidak mau nanti anaknya nangis minta dibelikan es krim. Karena tentu, si bapak tidak berniat membelikannya.

       Oleh sebab itu, gue dan anak-anak yang kurang beruntung lainnya, biasa membuat mainan sendiri. Dari tanah liat, kita bisa membuat orang-orangan, robot, hewan-hewanan, sampai mobil-mobilan. Gue dan tanah liat, bisa dibilang memiliki hubungan baik saat itu. Tidak heran kalo gue saat itu, sulit dibedakan antara satu sama lain.
       Selain mainan yang gue sebutkan tadi, gue juga sering main sama anak-anak cewek. Mainan anak cewek saat itu meliputi: lompat karet, tepuk gambar, bola bekel, dan mainan cewek lainnya. Hampir semua permainan anak cewek yang ada saat itu, gue bisa memainkannya. Terlebih adalah bola bekel. Untuk ukuran cowok seperti gue, gue cukup jago main bola bekel. Dengan posisi duduk gue yang kedua kaki ditekuk ke samping (persis seperti duduknya anak cewek), gue cukup sering menang mengalahkan anak cewek saat main bola bekel. Tapi sekarang, entah kenapa hal itu cukup memalukan ketika gue mengingatnya. Kenapa harus bola bekel? Apa gak ada permainan yang lebih cowok banget gitu?

       Saat gue SD dulu juga selalu ada 'pemimpin' yang gue ikuti. Yaitu seorang anak yang lebih kaya dari anak yang lain. Anak seperti ini dulu, pasti memiliki banyak teman. Oke gue ralat. Maksudnya, memiliki banyak pengikut. Anak seperti ini juga, yang selalu jadi pemimpin dalam hal apapun. Gue sendiri pernah gonta-ganti pemimpin. Yang menurut gue enak, ya gue gabung.
       Pemimpin pertama gue bernama Rahuri (kedengarannya seperti nama Jepang ya?). Rahuri lebih tua sekitar 6-8 tahun dari gue. Kegiatan yang gue lakukan dengannya cukup hina, yaitu: nyari tanah liat, nyari capung, sampai nyari rongsok buat di tukar dengan anak ayam yang biasa dijual keliling. Setiap kegiatan yang gue dan temen-temen (baca: pengikut) lakukan, harus dengan komando dari Rahuri. Kalo tidak, gue bisa dikucilkan dari pergaulan. Saat itu, dikucilkan dari pergaulan adalah hal yang sangat menyedihkan buat gue.
        Tapi setelah sekian lama, akhirnya gue dikeluarkan dari kelompok Rahuri. Karena satu kesalahan gue: berantem dengan adiknya. Saat itu Rahuri murka, gue hampir aja jadi santapannya. Tapi untungnya, gue selamat berkat jurus Si Kancil Mencuri Tipi yang gue pelajari saat itu.

       Setelah keluar dari kelompok Rahuri, gue sempat beberapa kali mengikuti pemimpin lain. Mendapatkan seorang pemimpin cukup mudah, hanya modal mental aja. Yaitu: mental yang siap disuruh-suruh. Tapi, pemimpin yang gue ikuti tidak ada yang bener. Gue pernah dapet pemimpin yang pelit banget. Ada juga yang suka nraktir, tapi setelah di selidiki, ternyata duitnya dapet nyolong dari neneknya. Namanya Ranto. Pernah suatu hari, Ranto ngajak gue dan temen lainnya pergi ke pasar Jatibarang naik Andes (Angkutan desa). Sampai disana kita langsung masuk ke warung bakso. Total, kita berlima saat itu. Bisa dibayangin, lima anak SD berpakaian lusuh, masuk ke warung bakso. Kita mau beli, tapi gue tau, penjual bakso dan para pengunjung yang ada, pasti ngira kita kelompok pengemis cilik. Tapi dengan cukup jumawa, Ranto bilang ke si penjual bakso:
       "Mas, pesen bakso komplit lima mangkuk. Sama es teh manisanya lima juga. Makan disini."
       "Iya dek." Jawab si penjual bakso dengan mengangkat alisnya.
       "Tenang, gue bayar!" Kata Ranto menepuk saku belakangnya.

       Mendengar Ranto bilang begitu, gue dan temen-temen jadi tenang. Walaupun gue gak tau ada uang apa enggak disaku Ranto. Yang jelas saat itu, gue bangga punya pemimpin seperti Ranto.
       Kita semua duduk diantara beberapa pengunjung yang ada disitu. Semenit kemudian Ranto pamit keluar sebentar.
       "Jis, lo ikut gue sebentar!" Kata Ranto ke Ajis, salah satu temen gue.
       "Kemana?" Tanya Ajis lugu.
       "Udah ikut aja, cepet!" Ranto menarik tangan Ajis.
      
       Gue dan temen yang lain cuma diam.
       Ranto dan Ajis pun pergi. 10 menit kemudian, pesanan kita datang. Pada saat yang hampir bersamaan, Ranto dan Ajis juga kembali. Untuk kedua kalinya, gue tenang. Karena gue kira tadi Ranto bakal kabur ninggalin kita.
       Bakso kita habiskan semua. Setelah itu, Ranto membayar bakso. Terlihatlah beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Dalam hati gue bergumam: HEBAT!!

       Kita pun pulang dengan kenyang dan penuh kepuasan. Sesampainya dirumah Ranto, neneknya Ranto terlihat panik. Ranto dipanggil ke dalam oleh neneknya. Kita berempat diluar rumah. Beberapa saat kemudian, terdengar suatu percekcokan antara Ranto dan neneknya. Karena takut, kita berempat pulang diam-diam. Dalam perjalanan pulang, Ajis mengatakan hal yang mengejutkan. Katanya, tadi saat dia di ajak Ranto sebentar, dia menemani Ranto menjual sebuah cincin emas. Ajis gak tau cincin emas itu punya siapa. Tapi dengan kejadian percekcokan tadi, kita tau kalo cincin itu punya neneknya.
       Sejak saat itu, gue gak pernah lagi main ke rumah Ranto. Jujur, neneknya Ranto sangat baik dengan semua teman Ranto. Gue nyesel diajak makan bakso sama Ranto. Sampai sekarang gue gak tau kenapa saat itu Ranto berani nyolong cincin neneknya, hanya demi bisa mendapatkan banyak pengikut.

       Setelah Ranto, pemimpin gue selanjutnya adalah Sandy. Ini pemimpin yang paling ngeselin buat gue. Dia suka nyuruh, bentak, hingga memusuhi. Gue pernah pada suatu sore, lagi main bola di pekarangan deket rumah. Gue, Sandy, dan temen-temen lainnya bertanding melawan anak RT sebelah. Sialnya, salah satu dari tim gue yang biasa jadi kiper, gak ikutan main. Gak tau tuh anak kemana. Sandy pun nyuruh gue buat gantiin, jadi kiper. Sebenarnya gue gak suka jadi kiper. Menurut gue saat itu, kiper adalah posisi dalam sepakbola yang sama sekali gak keren. Lagian, gue selalu takut kena bola saat lawan menendang ke arah gue. Karena dulu, tujuan utama bermain sepakbola adalah membuat lawan cidera. Menang adalah tujuan kedua setelahnya.
       Tapi gue gak bisa menolak perintah Sandy. Karena takut dikucilkan dan nanti gak punya temen. Pertandingan dimulai, gue jadi kiper. 5 temen gue termasuk Sandy, jadi pemain. Gak ada posisi yang pasti. Semua anak berhak bermain bebas, kecuali kiper yang hanya diam dengan bego jaga gawang. Petaka mulai terjadi, gue kemasukan. Gol, 1-0 untuk lawan. Beberapa menit kemudian, gol lagi, 2-0. Gol lagi, 3-0. Gue takut banget saat lawan menendang ke arah gawang gue. Gol lagi, 4-0. Sandy mulai memarahi gue. Tapi gol terus bersarang di gawang gue sampai 8-0. Pertandingan selesai dengan kemenangan lawan. Tim gue kalah telak. Gue tau harga diri kelompok gue, secara tidak langsung di injak oleh anak RT sebelah. Tapi gue mikir keselamatan gue dari pada harus cidera. Alhasil, gue dimarahi habis-habisan sama Sandy. Dia memusuhi gue. Gue dikucilkan dari kelompok Sandy.
       Keesokan harinya adalah hari minggu. Dimana gue biasa nonton kartun kesukaan gue saat itu: Dragon Ball. Setiap hari minggu, pagi-pagi biasanya gue udah dirumahnya Sandy buat nonton kartun. Karena dirumah gue gak ada televisi. Pada zaman itu, televisi memang menjadi barang mewah yang cuma segelintir orang dapat memilikinya.
       Gue pun ke rumah Sandy. Tapi pintunya ditutup. Gue ketok, gak ada jawaban. Akhirnya gue intip diantara celah jendela kayu rumah Sandy. Gue lihat TVnya nyala. Gue ketok lagi jendelanya, tapi tetep gak dibukakan pintu. Sandy bener-bener marah ke gue. Gue intip lagi. Dan terlihat Dragon Ball sudah mulai tayang di TV hitam putih Sandy. Gue sedih. Akhirnya dengan hinanya, gue nonton di celah jendela kayu rumah Sandy sampai selesai. Setengah jam gue ngintip untuk nonton Dragon Ball. Gak enak banget memang rasanya. Setelah selesai, gue pulang dengan gontai.

       Kadang kalo inget itu, lucu juga sih. Kita bermain berkelompok. Rame, seneng, sedih. Beda banget sama sekarang. Kadang saat gue nonton TV sendiri, merasa sangat kesepian. Disitu juga kadang gue berharap ada teman mengetuk pintu rumah gue dan nonton bersama.




Baca juga:

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo.

Selasa, 03 Maret 2015

CliponYu, sebuah aplikasi recomended untuk jomlo (SERU ABIS)

Mau ngobrol online dengan cewek cakep via live show streaming? Segera kunjungi CliponYu, sebuah website live show yang hadirkan cewek cantik Indonesia. CliponYu adalah cara asyik bagi mereka yang hobi chatting. Terlebih, aksi chat ditemani cewek super seksi.

CliponYu adalah sebuah perusahaan rintisan yang dibesut oleh Baidu, perusahaan teknologi raksasa asal China. CliponYu tawarkan konten unik yang tidak dimiliki situs serupa di Tanah Air. CliponYu adalah perpaduan dari radio, video podcast, danmerchandise store.

Situs ini miliki jadwal on air mulai jam 11.000 siang hingga 11.00 malam. Live braodcast bersama DJ dihelat pada jam 11.00 siang hingga 17.000 atau jam lima sore hingga sebelas malam. Userbisa mendaftar di situs tersebut. Setiap DJ miliki ciri khas sendiri-sendiri. Satu yang pasti dari mereka, parasnya aduhai.

Konsep yang diusung CliponYu sebelumnya sukses di China dan Thailand. Namun, di kedua negara, DJ yang menemani user umumnya kenakan kostum super hot. DJ bisa memenuhi permintaan (lagu) pengguna dan obrolan terjadi di room.

DJ memainkan lagu dan mempamerkan kemampuannya untuk “menghibur” user yang sedang berinteraksi di room. DJ juga menerima request gifts. Terkaitmerchandise store, virtual gifts tidak bisa diperoleh dengan gratis. Ada pula fitur member VIP. Dua pintu masuk CliponYu untuk monetisasi.

Bagi Anda yang pernah mencoba Camfrog, mungkin tidak akan asing jika menjajal CliponYu. Ekosistemnya hampir sama tatkala aktivitas di roombersama DJ. Kunjungi di Cliponyu.com. Atau download aplikasinya gratis di Google Play Store disini.



Semoga terhibur ya :))