TANAH liat, mobil-mobilan bambu, tembak-tembakan dari batang daun pisang, adalah beberapa mainan saat gue SD dulu. Anak kecil seperti gue dulu, dituntut untuk bisa membuat mainan sendiri. Sebenarnya ada mainan yang biasa dijual di pasar. Tapi kebanyakan para orang tua zaman dulu di desa gue (Dukuhpayung), enggan membelikan anaknya mainan. Selain harganya yang mereka pikir mahal, mereka juga berfikir kalo bisa buat sendiri, kenapa harus beli?
Tapi setelah gue gede sekarang, gue tau kalo sebenarnya orang tua dulu sangat pelit dalam hal membelikan mainan anaknya. Karena gue inget, saking pelitnya mereka, sampai ada satu bapak-bapak (tetangga gue dulu), yang berani mengusir penjual es krim keliling yang berhenti didepan rumahnya. Bapak tersebut tidak mau nanti anaknya nangis minta dibelikan es krim. Karena tentu, si bapak tidak berniat membelikannya.
Oleh sebab itu, gue dan anak-anak yang kurang beruntung lainnya, biasa membuat mainan sendiri. Dari tanah liat, kita bisa membuat orang-orangan, robot, hewan-hewanan, sampai mobil-mobilan. Gue dan tanah liat, bisa dibilang memiliki hubungan baik saat itu. Tidak heran kalo gue saat itu, sulit dibedakan antara satu sama lain.
Selain mainan yang gue sebutkan tadi, gue juga sering main sama anak-anak cewek. Mainan anak cewek saat itu meliputi: lompat karet, tepuk gambar, bola bekel, dan mainan cewek lainnya. Hampir semua permainan anak cewek yang ada saat itu, gue bisa memainkannya. Terlebih adalah bola bekel. Untuk ukuran cowok seperti gue, gue cukup jago main bola bekel. Dengan posisi duduk gue yang kedua kaki ditekuk ke samping (persis seperti duduknya anak cewek), gue cukup sering menang mengalahkan anak cewek saat main bola bekel. Tapi sekarang, entah kenapa hal itu cukup memalukan ketika gue mengingatnya. Kenapa harus bola bekel? Apa gak ada permainan yang lebih cowok banget gitu?
Saat gue SD dulu juga selalu ada 'pemimpin' yang gue ikuti. Yaitu seorang anak yang lebih kaya dari anak yang lain. Anak seperti ini dulu, pasti memiliki banyak teman. Oke gue ralat. Maksudnya, memiliki banyak pengikut. Anak seperti ini juga, yang selalu jadi pemimpin dalam hal apapun. Gue sendiri pernah gonta-ganti pemimpin. Yang menurut gue enak, ya gue gabung.
Pemimpin pertama gue bernama Rahuri (kedengarannya seperti nama Jepang ya?). Rahuri lebih tua sekitar 6-8 tahun dari gue. Kegiatan yang gue lakukan dengannya cukup hina, yaitu: nyari tanah liat, nyari capung, sampai nyari rongsok buat di tukar dengan anak ayam yang biasa dijual keliling. Setiap kegiatan yang gue dan temen-temen (baca: pengikut) lakukan, harus dengan komando dari Rahuri. Kalo tidak, gue bisa dikucilkan dari pergaulan. Saat itu, dikucilkan dari pergaulan adalah hal yang sangat menyedihkan buat gue.
Tapi setelah sekian lama, akhirnya gue dikeluarkan dari kelompok Rahuri. Karena satu kesalahan gue: berantem dengan adiknya. Saat itu Rahuri murka, gue hampir aja jadi santapannya. Tapi untungnya, gue selamat berkat jurus Si Kancil Mencuri Tipi yang gue pelajari saat itu.
Setelah keluar dari kelompok Rahuri, gue sempat beberapa kali mengikuti pemimpin lain. Mendapatkan seorang pemimpin cukup mudah, hanya modal mental aja. Yaitu: mental yang siap disuruh-suruh. Tapi, pemimpin yang gue ikuti tidak ada yang bener. Gue pernah dapet pemimpin yang pelit banget. Ada juga yang suka nraktir, tapi setelah di selidiki, ternyata duitnya dapet nyolong dari neneknya. Namanya Ranto. Pernah suatu hari, Ranto ngajak gue dan temen lainnya pergi ke pasar Jatibarang naik Andes (Angkutan desa). Sampai disana kita langsung masuk ke warung bakso. Total, kita berlima saat itu. Bisa dibayangin, lima anak SD berpakaian lusuh, masuk ke warung bakso. Kita mau beli, tapi gue tau, penjual bakso dan para pengunjung yang ada, pasti ngira kita kelompok pengemis cilik. Tapi dengan cukup jumawa, Ranto bilang ke si penjual bakso:
"Mas, pesen bakso komplit lima mangkuk. Sama es teh manisanya lima juga. Makan disini."
"Iya dek." Jawab si penjual bakso dengan mengangkat alisnya.
"Tenang, gue bayar!" Kata Ranto menepuk saku belakangnya.
Mendengar Ranto bilang begitu, gue dan temen-temen jadi tenang. Walaupun gue gak tau ada uang apa enggak disaku Ranto. Yang jelas saat itu, gue bangga punya pemimpin seperti Ranto.
Kita semua duduk diantara beberapa pengunjung yang ada disitu. Semenit kemudian Ranto pamit keluar sebentar.
"Jis, lo ikut gue sebentar!" Kata Ranto ke Ajis, salah satu temen gue.
"Kemana?" Tanya Ajis lugu.
"Udah ikut aja, cepet!" Ranto menarik tangan Ajis.
Gue dan temen yang lain cuma diam.
Ranto dan Ajis pun pergi. 10 menit kemudian, pesanan kita datang. Pada saat yang hampir bersamaan, Ranto dan Ajis juga kembali. Untuk kedua kalinya, gue tenang. Karena gue kira tadi Ranto bakal kabur ninggalin kita.
Bakso kita habiskan semua. Setelah itu, Ranto membayar bakso. Terlihatlah beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Dalam hati gue bergumam: HEBAT!!
Kita pun pulang dengan kenyang dan penuh kepuasan. Sesampainya dirumah Ranto, neneknya Ranto terlihat panik. Ranto dipanggil ke dalam oleh neneknya. Kita berempat diluar rumah. Beberapa saat kemudian, terdengar suatu percekcokan antara Ranto dan neneknya. Karena takut, kita berempat pulang diam-diam. Dalam perjalanan pulang, Ajis mengatakan hal yang mengejutkan. Katanya, tadi saat dia di ajak Ranto sebentar, dia menemani Ranto menjual sebuah cincin emas. Ajis gak tau cincin emas itu punya siapa. Tapi dengan kejadian percekcokan tadi, kita tau kalo cincin itu punya neneknya.
Sejak saat itu, gue gak pernah lagi main ke rumah Ranto. Jujur, neneknya Ranto sangat baik dengan semua teman Ranto. Gue nyesel diajak makan bakso sama Ranto. Sampai sekarang gue gak tau kenapa saat itu Ranto berani nyolong cincin neneknya, hanya demi bisa mendapatkan banyak pengikut.
Setelah Ranto, pemimpin gue selanjutnya adalah Sandy. Ini pemimpin yang paling ngeselin buat gue. Dia suka nyuruh, bentak, hingga memusuhi. Gue pernah pada suatu sore, lagi main bola di pekarangan deket rumah. Gue, Sandy, dan temen-temen lainnya bertanding melawan anak RT sebelah. Sialnya, salah satu dari tim gue yang biasa jadi kiper, gak ikutan main. Gak tau tuh anak kemana. Sandy pun nyuruh gue buat gantiin, jadi kiper. Sebenarnya gue gak suka jadi kiper. Menurut gue saat itu, kiper adalah posisi dalam sepakbola yang sama sekali gak keren. Lagian, gue selalu takut kena bola saat lawan menendang ke arah gue. Karena dulu, tujuan utama bermain sepakbola adalah membuat lawan cidera. Menang adalah tujuan kedua setelahnya.
Tapi gue gak bisa menolak perintah Sandy. Karena takut dikucilkan dan nanti gak punya temen. Pertandingan dimulai, gue jadi kiper. 5 temen gue termasuk Sandy, jadi pemain. Gak ada posisi yang pasti. Semua anak berhak bermain bebas, kecuali kiper yang hanya diam dengan bego jaga gawang. Petaka mulai terjadi, gue kemasukan. Gol, 1-0 untuk lawan. Beberapa menit kemudian, gol lagi, 2-0. Gol lagi, 3-0. Gue takut banget saat lawan menendang ke arah gawang gue. Gol lagi, 4-0. Sandy mulai memarahi gue. Tapi gol terus bersarang di gawang gue sampai 8-0. Pertandingan selesai dengan kemenangan lawan. Tim gue kalah telak. Gue tau harga diri kelompok gue, secara tidak langsung di injak oleh anak RT sebelah. Tapi gue mikir keselamatan gue dari pada harus cidera. Alhasil, gue dimarahi habis-habisan sama Sandy. Dia memusuhi gue. Gue dikucilkan dari kelompok Sandy.
Keesokan harinya adalah hari minggu. Dimana gue biasa nonton kartun kesukaan gue saat itu: Dragon Ball. Setiap hari minggu, pagi-pagi biasanya gue udah dirumahnya Sandy buat nonton kartun. Karena dirumah gue gak ada televisi. Pada zaman itu, televisi memang menjadi barang mewah yang cuma segelintir orang dapat memilikinya.
Gue pun ke rumah Sandy. Tapi pintunya ditutup. Gue ketok, gak ada jawaban. Akhirnya gue intip diantara celah jendela kayu rumah Sandy. Gue lihat TVnya nyala. Gue ketok lagi jendelanya, tapi tetep gak dibukakan pintu. Sandy bener-bener marah ke gue. Gue intip lagi. Dan terlihat Dragon Ball sudah mulai tayang di TV hitam putih Sandy. Gue sedih. Akhirnya dengan hinanya, gue nonton di celah jendela kayu rumah Sandy sampai selesai. Setengah jam gue ngintip untuk nonton Dragon Ball. Gak enak banget memang rasanya. Setelah selesai, gue pulang dengan gontai.
Kadang kalo inget itu, lucu juga sih. Kita bermain berkelompok. Rame, seneng, sedih. Beda banget sama sekarang. Kadang saat gue nonton TV sendiri, merasa sangat kesepian. Disitu juga kadang gue berharap ada teman mengetuk pintu rumah gue dan nonton bersama.
Baca juga:
MAKE THINGS HAPPEN!
Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar