SAAT masih kelas dua SD, gue pernah pindah sekolah di desa orang tua gue tinggal. Sebelumnya, gue sekolah di SD Negeri Dukuhpayung 01 dan tinggal bersama nenek gue. Tapi karena alasan yang tidak bisa gue jabarkan disini, gue akhirnya dipindahkan ke orang tua gue di desa Slarang Kidul, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Indonesia, planet Bumi, sebelah planet Mars, dan di galaksi Bimasakti (kali aja kamu alien dari galaksi lain)
Setelah tinggal disana, gue dimasukkan ke MI Negeri Slarang Kidul. Sekolahnya bagus, beda jauh dengan SD gue sebelumnya. Bangunannya berlantai dua. Ruang kelasnya pun terbilang banyak. Karena satu kelas dibagi menjadi tiga, yaitu: kelas A, B, dan C. Jadi didalam satu ruang kelas, hanya ada 30-an murid. Tidak seperti di SD Dukuhpayung yang sampai 70 murid dalam satu kelas. Yang mana sudah bisa ditebak: sempit dan gak nyaman buat belajar. Saat nulis di meja kelas juga kita harus menurunkan satu tangan kebawah, supaya gak 'makan' tempat.
Hari pertama di sekolah baru berjalan cukup baik. Gue dimasukkan ke kelas 2B. Pertama-tama, guru meminta gue memperkenalkan diri kepada temen-temen.
"Perkenalkan, aku Popon Sutrisno. Biasa dipanggil Popon. Aku murid baru, baru pindah." kata gue didepan kelas.
Setelah perkenalan yang amat sangat bodoh itu, gue pun mulai belajar. Suasana kelas tenang dan nyaman. (Lagi-lagi) beda dengan SD Dukuhpayung yang bising saat jam pelajaran. Guru pengajarnya juga enak banget kalo ngajar. Kenyamanan yang turut gue rasakan juga saat mata pelajaran kesenian. Dimana murid satu kelas akan dipindahkan ke ruang kelas khusus yang tidak ada bangku didalamnya dan hanya ada karpet bersih. Misalnya saja saat pelajaran menggambar. Gue bisa sambil tidur-tiduran saat itu. Gurunya juga enak banget. Guru akan selalu memuji setiap apa yang kami gambar. Gambar gue yang cuma dua gunung dengan satu matahari ditengahnya, juga tak luput dari pujiannya. Karena itulah gue merasa jago menggambar. Padahal setelah gue besar sekarang, gue gak sengaja menemukan buku gambar gue saat sekolah disitu. Isinya sangat mencengangkan. Gue pernah menggambar bendera Indonesia dengan warna pink dan putih, berkibar disebuah tiang. Ini tentu menghilangkan kesan 'pemberani' di bendera Indonesia. Karena diganti dengan kesan 'unyu'. Sejak saat itu gue menyadari sesuatu bahwa: pujian tidak selalu berdampak baik.
Saat jam istirahat di hari pertama, gue selalu sibuk membanding-bandingkan sekolah baru dengan yang lama. Dan dimata gue, sekolah baru ini selalu lebih baik dan lebih 'komplit' daripada yang lama. Ada perpustakaan yang cukup besar disana, lapangan basket, dan Drum Band yang mana saat itu cuma sekolah tersebut yang memilikinya di desa itu.
Setelah gue besar sekarang, gue pikir, kebiasaan membanding-bandingkan ini mirip seperti kasus dalam hal pacaran. Dimana ketika kita baru saja jadian, kita masih sibuk membanding-bandingkan pacar baru kita dengan mantan. Saat membandingkan, kita gak pernah tau pasti mana yang lebih baik. Yang jelas, dia hanya lebih 'baru' buat kita. Dan kita cenderung lebih tertarik akan hal yang 'baru'. Sehingga yang 'lama' terlihat 'biasa'.
Hari-hari terus berlalu.
Seperti murid pindahan baru pada umumnya, gue lebih pendiam. Saat istirahat, gue banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Bagi anak SD, perpustakaan memang bukan tempat yang lazim untuk dimasuki. Karena mereka lebih suka main daripada baca. Sebenarnya gue juga pengen main sama temen-temen sewaktu istirahat. Tapi sifat gue yang pendiam ini cukup menyulitkan gue untuk mendapatkan temen.
Pada suatu hari, tibalah saat dimana gue merasa harus punya temen. Lama-lama bosen juga di perpustakaan. Lagian gue terlihat culun abis pasti. Gue mulai merubah kebiasaan gue. Dari yang awalnya di perpustakaan saat istirahat, gue jadi sering nongkrong di kantin sekolah. Suatu hari saat di kantin, gue melihat temen sekelas gue Ari dan Hisam. Mereka duduk berdua di sebuah meja. Gue gak pernah kenalan sama siapa pun di sekolah. Tapi gue tau semua nama temen sekelas gue berkat absensi yang dilakukan setiap hari.
Gue pun memberanikan diri mendekati mereka, yang masing-masing sedang makan sepiring siomay. Ari anaknya kurus, sedangkan Hisam gemuk dan gempal.
"Maaf, gue boleh gak ikut duduk sama kalian?" kata gue.
"Iya, duduk aja!" jawab Ari dengan sedikit senyum.
"Duduk, iya duduk silahkan." kata Hisam, girang.
"Makasih." kata gue, senang.
"Tumben lo gak ke perpus?" tanya Ari ke gue. "Biasanya betah lo disana." imbuhnya.
"I...iya lagi bosen aja."
"Lo tuh culun banget tauk gak!" timpal Hisam sambi mengunyah siomaynya.
"Gitu ya?"
"Iyalah, baca mulu kerjaannya. Sekali-kali main dong sama kita!"
"Ya namanya juga anak baru, jadi masih malu-malu. Iya kan, Pon?" tanya Ari.
"Iya." jawab gue singkat.
Kita bertiga banyak ngobrol dan bercerita ngalor ngidul saat itu.
Semenjak obrolan gue sama Ari dan Hisam di kantin, kita jadi tambah akrab. Gue jadi punya temen main. Gue juga sering pulang bareng mereka. Gue sering main ke rumah mereka. Lama kelamaan gue tau karakter mereka. (Tapi gak sampai jadian lho ya!)
Ari itu anaknya banyak tau, tapi cenderung sok tau. Sedangkan Hisam, dia cuma tau kalo siomay di sekolah enak banget.
Ke-sok-tauan Ari bisa dilihat saat dia bilang kalo ikan suka makan bawang putih. Entah darimana Ari bisa menyimpulkan hal ini. Yang jelas pada sebuah minggu sore, gue, Ari dan Hisam pergi mancing di sebuah kali deket rumah kita. Tugasnya selalu sama: Ari dan Hisam mancing, sedangkan tugas gue bisa dibilang cukup hina, yaitu nyari cacing buat umpan.
Kita pun mancing, duduk disebuah bebatuan, menunggu ikan menyambar umpan kita. "Ssssssttttt jangan pada ngomong, nanti ikannya denger!" kata Ari sesaat sebelum mencemplungkan umpan ke kali.
Gue sama Hisam mengangguk ke Ari.
30 menit berlalu dengan keheningan. Tapi umpan tak kunjung di sambar ikan. Kita terus menunggu dengan sabar. Barulah setelah hampir satu jam, Hisam berani ngomong. "Mungkin airnya terlalu jernih, jadi ikannya liat kita." Mendengar itu, gue refleks nengok ke Ari. Ari juga ngeliat gue.
Air di kali ini memang jernih banget saat kemarau. Itu sebabnya banyak orang yang mencuci baju di kali. Bahkan sampai sekarang juga masih ada orang yang mencuci di situ. Gak jarang ketika orang lagi nyuci, dia menghindar dari tahi yang lewat didepannya tanpa permisi.
"Kayaknya bener kata Hisam deh, Ri. Airnya jernih banget." kata gue. Si Ari terlihat mikir sejenak, dan tiba-tiba:
"Oke, kita merunduk!"
"Me..merunduk?" kata gue kaget.
"Iya, biar ikannya gak liat kita."
"Tapi Ri, ini kotor."
"Udah cepetan!"
"Ta..tapi Ri."
"Liat tuh Hisam, dia nurut!" Ari nunjuk Hisam yang ternyata sudah tengkurap. Dengan terpaksa gue pun ikut tengkurap, begitu pula Ari.
Kita bertiga tengkurap dengan bodohnya, menunggu ikan menyambar umpan. Kalo ada orang yang liat saat itu, mungkin kita dikira buaya yang berpakaian.
Hasilnya, tetep! Ikan enggan makan umpan kita. Sebenarnya, sempat ada ikan yang narik-narik umpan kita, tapi pas di angkat malah cuma cacingnya aja yang ilang, ikannya gak dapet.
Hampir 2 jam kita mancing, tapi gak ada tanda-tanda kalo kita bakal dapet ikan. Akhirnya kita bertiga pulang dengan baju yang kotor. Apes banget deh.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Ari dan Hisam ke rumah gue. Kemudian gue langsung diajak lagi mancing di kali. Sesampainya di kali, gue bersiap-siap mau nyari cacing. Tapi Ari mencegat:
"Eh mau ngapain lo?"
"Nyari cacing lah." kata gue.
"Gak usah! Kita ganti umpan kita dengan ini." Ari menunjukkan beberapa siung bawang putih dari sakunya.
"Bawang putih, emang bisa?" tanya gue, heran.
"Bisa dong." kata Hisam yakin.
"Lo tau dari siapa emang, Sam?"
"Kata Ari." jawabnya datar.
"Udah kita coba aja dulu." ujar Ari seraya menyiapkan pancingannya.
Dengan penuh keraguan, gue pun mulai memotong bawang putih itu ke bagian kecil-kecil. Ditancapkanlah bawang putih itu ke kail. Kemudian kita mulai mancing. Dan seperti biasa: kita bertiga merunduk.
Menit berlalu hening. Harapan kita mendapatkan ikan sangat besar saat itu. Tapi setelah setengah jam, ikan tetep gak menjamah umpan kita. Dan seperti kemarin juga: kita sabar menunggu. Hingga satu jam kemudian, tiba-tiba Ari berdiri. Dia berjalan menjauh dari kali. Kemudian dia membawa satu batu besar, sebesar kepala. Lalu...byuuaaarrrrr.. Batu tersebut dilemparnya ke kali, di tempat dimana kail kita berada. "Kita pulang!" kata Ari yang terlihat sangat kesal. Gue dan Hisam bergegas membereskan alat pancing kita. Kemudian kita bertiga pulang.
Bersambung...
Baca juga artikel lainnya:
(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK
Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya
Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja
#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...
#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2
Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya
Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)
Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau
Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar