BANDUNG emang dikenal sebagai produsen cewek-cewek cantik di Indonesia. Gak heran kalo Bandung dijuluki Kota Peuyeum (lho!?! Kok gak nyambung).
Gue udah lama tinggal di Bandung. Dan gue udah beberapa kali punya pacar orang sini. Itu semua berkat ketampanan gue. Cewek terakhir yang bilang gue tampan adalah: Nenek gue.
Terakhir gue pacaran dengan cewek Bandung tulen terjadi 4 tahun lalu. Tepatnya di tahun 2011 (cukup lama juga ya). Dan cewek beruntung (baca: apes) itu bernama Beby.
Kebetulan rumah Beby deket sama rumah kontrakan Om gue. Gue sendiri kerja di tempat Om gue yang satunya. Dan agak jauh tempatnya.
Gue yang sering main ke tempat Om gue (yang deket sama rumah Beby) pun akhirnya melihat Beby. Anaknya berperawakan kecil, rambutnya panjang dan tentunya cantik.
Awalnya sih gue cuma senyum kalo kebetulan lagi papasan sama Beby. Sampai disuatu malam, gue memberanikan diri buat ngajak dia kenalan. Gue yang emang tampan (atau mungkin muka gue terlihat kasihan) pun akhirnya dapet nomor telponnya.
Abis itu kita smsan, telponan, dan kadang juga, gue main kerumanya. Kita ngobrol-ngobrol, becanda-becandaan. Semakin deket, semakin deket, sampai akhirnya gue melakukan langkah besar dalam hidup, yaitu: gue mau nembak Beby.
Disuatu malam di teras rumah Beby, kita seperti biasa: ngobrol-becanda. Dan gue pun meyakinkan diri buat ngungkapin perasaan gue ke dia.
"Beby?" Kata gue ditengah obrolan kita.
"Iya?" Beby kaget ngeliat gue yang dari tadi becanda mendadak serius.
"A-aku su-suka ama kamu." Kata gue terbata-bata. "Kamu mau gak jadian ama aku?"
Hening.
Beby ngeliatin muka gue.
Beby ngeliat langit, terus liat muka gue lagi.
Beby ngangguk.
Gue yang kurang percaya dengan anggukan Beby pun bilang:
"Kamu sakit leher yah? Leher kamu gak bisa digerakin ke kiri kanan?"
"Ihh kamu apaan sih!" Beby ketawa kecil sambil mukul pundak gue pelan.
"Jadi?" Kata gue mastiin.
"Iya aku mau jadi pacar kamu."
Gue seneng banget. Tapi ada sesuatu yang janggal. Gue mikir: kenapa ya Beby tadi ngeliat langit? Mungkin pas ngeliat langit dia ngomong dalam hati: "Ya Allah ampuni hambamu yang telah salah memilih jalan." Ah tapi bodo amat. Yang penting gue punya pacar cantik.
Malam semakin larut, gue pun pamit pulang. Gue pulang dengan muka penuh kebahagiaan. Saat dijalan menuju pulang ke tempat Om gue (yang sekaligus tempat kerja), tak henti-hentinya gue mikirin Beby. Sampai senyum-senyum sendiri.
Sampai rumah, kita masih smsan. Kemudian gue tidur, tentunya dengan :* (titik dua bintang) dari Beby.
Dipagi hari saat gue bangun, entah mengapa pagi itu terasa lebih indah dari biasanya. Ayam jago berkokok lebih merdu, kicau burung terdengar seperti melodi yang indah, udara pagi terasa membelai lembut tubuh gue. Hari itu, gak 1 jam terlewatkan tanpa memikirkan Beby. Kecuali saat tidur siang (yaiyalah!!).
Sehabis kerja gue bergegas ke tempat Om gue (yang deket rumah Beby). Yang tentunya dilanjutkan dengan ritual pacaran ke rumah Beby. Hampir setiap malam kita ketemu. Kadang Beby ke tempat Om gue dan nyamperin gue dengan manjanya.
Pernah disuatu malam saat di rumah Beby, gue ngobrol sama nenek dan kakak Beby. Kita berempat diruang tamu.
"Jadi kamu orang jawa?" Kakak Beby nanya ke gue.
"Iya teh."
"Bisa ngomong sunda gak?"
"Enggak teh."
"Teu tiasa nyarios sunda?" Kakak Beby meyakinkan dengan bahasa sunda.
"Enteu teh."
"HAHAHAHA..." mereka bertiga ketawa.
Gue yang bingung, cuma nyengir.
"Lah itu bisa ngomong sunda!"
"Masa sih teh..hehe."
"Bilang bisa gitu, tapi sedikit. Udah lama kan di Bandung?"
"Hehe iya yah teh, lumayan lama sih teh."
Gue cuma bisa cengar cengir dan ngomong dalam hati: kok gue bego banget sih?
Pernah juga disuatu malam minggu, naluri laki-laki gue timbul. Yaitu: memamerkan Beby ke temen-temen kerja gue. Yap, itu adalah naluri semua laki-laki. Dimana pacar yang cantik ditunjukan ke khalayak ramai, sedangkan pacar yang jelek diumpetin jauh-hauh di dalam kerak bumi.
Saat gue dan Beby mau jalan. Gue ngajak Beby mampir ke tempat gue. Dengan alasan, ada sesuatu yang ketinggalan. Kita pun sampai didepan rumah. Gue ajak Beby masuk, tapi dia gak mau. Mungkin Beby merasakan aura negatif dirumah itu. Gue akhirnya masuk sendiri, sementara Beby masih duduk di motor mio gue dengan manisnya.
Saat gue didalem kamar, terdengar ada satu temen gue teriak pelan dari dalam rumah: "Woooyyy si Popon bawa cewek..cewekk..itu ada ceweknya Popon."
Gue cuma tersenyum mendengarnya. Karena emang gue sengaja biar mereka pada tau.
Tapi hal yang mengejutkan terlihat saat gue keluar rumah. Terlihat temen-temen gue lagi ngeliat Beby. Ada sekitar 6 pasang mata melihat Beby dengan biadap. Mata mereka seperti sekelompok cheetah kelaparan yang melihat rusa pincang. Siap untuk menerkam dan memangsa. Gue sontak berteriak: "wooyyyy huss..husss!!"
Gue mendekati Beby untuk menyelamatkan nyawanya yang terancam. Gue bilang ke temen-temen semua: "Ini Beby cewek gue." Gue juga bilang ke Beby: "Beby mereka temen-temen aku." Beby mengangkat tangannya dadah-dadah ke temen-temen gue, sambil senyum yang terlihat terpaksa.
"Salaman dong..salaman dong." Teriak salah satu temen gue.
"Yuk kita langsung jalan aja, Beb." Kata gue ke Beby tanpa menghiraukan temen-temen.
"Yuk, cepetan!!" Beby terlihat semakin ketakutan.
Ketika mesin motor gue nyalain dan siap-siap mau jalan, temen-temen gue terdengar gaduh. Mereka begitu beringas.
"Neng.." "Kenalan dulu dong." "Salaman neengg..." "Temennya ada yang jomblo gak neeenngg...??"
Mereka pada teriak-teriak gak jelas saat gue mulai menjalankan motor. "Aduh mampus! malu-maluin banget sih!" Kata gue dalam hati. Gue ngerasa gak enak sama Beby. Nanti disangkanya gue mau menjadikannya cemilan buat temen-temen gue.
Gue pun baru menyadari bahwa temen-temen gue jomblo semua. Ada yang jomblo akut, sampai yang kronis stadium 4. Ada yang LDRan sih, tapi apa bedanya?
"Maafin anak-anak ya tadi." Gue coba menenangkan Beby.
"Oh iya gak papa kok. Serem juga ya mereka..hehe.."
"Iya emang gitu, agak sedikit liar hehe.."
Kita pun sukses malam mingguan.
Hari hari yang gue lalui dengan Beby seperti ritual pacaran pada umumnya. Kita jalan, makan, ngobrol ngalor-ngidul sambil makan snack.
Suatu malam saat gue lagi berduaan dengan Beby, terasa sangat romantis. Waktu itu kita lagi makan Oreo. Terus gue ambil satu keping Oreo dan bilang: "Diputar". Lalu gue menyerahkan Oreo itu ke Beby, dia bilang: "Dijilat" sambil menjilat Oreo beruntung itu (ehem). Kemudian menyerahkan ke gue lagi. Saat gue mau bilang: "Dicelupin", kita sadar ternyata susunya gak ada. Kita berdua ketawa.
Tapi karena gue gak mungkin makan Oreo yang belum melalui langkah-langkah yang sempurna itu, gue pun mikir. Dan akhirnya gue menemukan alternatif yang cepat, mudah, dan dekat untuk menyempurnakan langkah-langkah makan Oreo itu.
Gue senyum-senyum pertanda baru saja mendapatkan ide.
Gue ngeliat Beby.
Beby senyum dan mengangguk tanda mengiyakan.
Akhirnya gue mulai.
Gue mencelupkan Oreo itu ke air comberan. (ngeress!!!)
Dan dengan biadapnya, kita berdua ketawa.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar