WAH udah lama ya gue gak posting ke blog. Bukan tanpa sebab lho! Itu semua karena tangan kanan gue sakit banget (padahal mah emang lagi gak ada ide hehe..). Pada mau tau gak yang sakit bagian mana? Ini nih sebelah sini, liat kan? Iya ini, bagian ini nih. Masa gak liat sih? Ah yasudah lah.
Karena sakit, gue memutuskan buat pijat ke tukang cukur. Bingung kan? Gue juga gak tau namanya siapa. Tapi dia biasa dipanggil Abang. Profesinya sih tukang cukur. Dia punya lapak pangkas rambut gitu di bilangan Manglid deket Sayati Lama, Kabupaten Bandung. Dan kebetulan dia tetangga gue disini. Dia juga terkenal biasa meraba (baca: memijat) orang.
Si Abang ini orang Padang tulen. Orang Padang yang berprofesi sebagai tukang cukur di Bandung. Baru denger kan? Ya, gue juga. Karena memang biasanya profesi tukang cukur di Bandung ini di dominasi oleh orang Garut. Walaupun si Abang ini orang Padang, tapi cara dia nyukur seperti tukang cukur pada umumnya. Gak nyukur sambil silat, gak juga sambil makan rendang.
Gue pernah sekali cukur ke si Abang. Cukurnya sih biasa, yang beda itu pijatan setelah cukurnya: enak banget. Beda banget sama cara mijatnya tukang cukur dari Garut. Saking enaknya, gue rela cukur tiap hari kesana. Gundul-gundul dah!
Tepatnya kemarin malam, gue pijat ke si Abang. Awalnya gue bilang ke si Didi, temen gue. "Di, kayaknya gue perlu pijat deh."
"Ok ntar gue bilang ke si Abang, ya!" kata Didi. "Paling ntar jam 10 juga dia balik."
"Iya deh."
Si Abang memang sudah biasa memijat temen-temen gue disini. Tapi ini pertama kalinya buat gue.
Gue pun menunggu. Tapi setelah jam 10 malam, si Abang belum juga datang. Dia masih di lapak pangkas rambutnya.
Jam 10:45 si Abang belum juga pulang ke kontrakannya.
11:10 malam, gue ketiduran.
11:12 itu perbandingan muka gue sama Harry Styles.
Lewat jam 12 malam, gue dibangunkan dari tidur. Gue lihat si Abang udah ada di kontrakan gue. Buat yang pengen tau, si Abang ini muka dan perawakannya mirip Yayan Ruhian. Tapi saat berantem di lift sama Iko Uwais di film Merantau.
"Bagian mano yang sakit?" kata si Abang dengan logat Minangnya yang kental.
"Disini, Bang!" gue menunjuk bahu kanan, tepat diatas ketek gue.
"Buka ajo bajunyo!"
Gue membuka baju dan duduk membelakangi si Abang.
Si Abang mengambil minyak tawon dan menggosok-gosokan ke telapak tangannya. Dia lalu menempelkan kedua tangannya ke punggung gue. Persis seperti pendekar yang lagi mengobati luka dalam muridnya. Kayak di film Dendam Nyi Pelet gitu.
Sekitar satu menit kita dalam posisi ini dengan keheningan. Kemudian si Abang mulai memijat gue.
"AAWWW!!" jerit gue agak kencang. Sakit, tekanannya keras banget.
"Kenapo, terlalu keras? Mau sayo pelankan lagi?" kata si Abang, sedikit ketawa.
"I..iya, Bang." gue menyeringai.
Tidak lama kemudian, Didi pulang. Dia habis membeli nasi goreng.
"Udah lama, Bang?" sapa Didi.
"Aihh, baru ajo."
Si Didi kebelakang. Kemudian dia balik ke kamar dengan segelas kopi hitam.
"Diminum, Bang!" kata Didi.
"Aihh, merepotkan sajo!"
"Enggak kok, Bang."
Sementara itu gue sibuk menahan sakitnya tekanan tangan kasar si Abang.
Si Abang menyuruh gue tidur tengkurap. Dia mulai meng-grepe (baca: memijat) punggung gue. Disamping kita, Didi duduk menonton tv. Mungkin karena gak ada acara yang seru, Didi menyalakan DVD player. Dia mulai memilih kaset DVD bajakan koleksinya.
"Mau nonton apo?" tanya si Abang ke Didi.
"Iya.. apa ya?" Didi bingung, karena memang semua DVD sudah pernah dilihatnya. Tapi kemudian Didi memilih nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sebenarnya sudah berkali-kali Didi nonton film ini. Tapi kemudian gue tau. Yaitu karena si Abang orang Padang. Semenjak pertama kali nonton film ini, Didi memang penasaran tentang adat Minangkabau. Apakah memang seperti yang diceritakan dalam film itu apa tidak.
"Udah pernah nonton film ini, Bang?" tanya Didi.
"Film apo memang?"
"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Bagus nih film, Bang!"
Didi mulai memainkan film itu. Setelah film mulai, si Abang bilang, "Ohh, ini kan sudah tayang di tv kan?"
"Iya, di RCTI." jawab Didi.
"Sayo pernah lihat waktu itu, tapi tidak sampai selesai."
"Nah, kali ini selesaikan, Bang!" kata Didi sambil ketawa kecil gitu.
Setengah jam film dimainkan. Sementara itu gue kesakitan. Demi meredam suara jerit gue yang mirip seperti bencong ngelihat kecoa, gue terus-menerus membenamkan muka gue ke bantal. Tapi gerakan tangan si Abang, cukup sering membuat gue mendongak keatas.
"Kalo Abang Padang-nya dimana sih?" tanya Didi.
"Sayo di Pariaman."
"Jauh dari Padang Panjang, Bang?"
"Lumayan, dua setengah jam kalau naik motor."
"Kalo Batipuh jauh, Bang? Batipuh itu apa sih, Bang? Kampung apa Kecamatan sih?"
Didi yang memang penasaran, terus menghujani pertanyaan ke si Abang.
"Jauh juga. Batipuh itu kayak Desa, Dusun gitu lah." jawab si Abang dengan sabar.
"Ohh.." Didi manggut-manggut.
Gue hanya mendengarkan obrolan mereka. Tenaga gue habis. Gue gak bisa ikut ngobrol. Karena yang bisa keluar dari mulut gue cuma: "AAWWW!"
"Pas ini, disini!" kata si Abang. "Sayo nonton cuma sampai sini waktu itu." Si Abang nunjuk adegan dimana Zainuddin pulang dari pacuan kuda, karena gak bisa dekat dengan Hayati.
"Ohh..iya." Didi manggut lagi, menanggapi si Abang.
"Di sano memang sering ado pacuan kuda." si Abang menambahkan, "Di daerah sayo malah sampai sekarang masih ado. Gede-gede lagi."
"Apanya, Bang?" Didi kaget.
"Uang taruhannyo."
"Ohh..itunya juga gede ya, Bang?"
"Apanyo?" giliran si Abang yang kaget.
"Kudanya." kata Didi, diiringi ketawa kecilnya.
"Iyo..lah!"
Mereka berdua terus asyik ngobrol. Gue semakin lemah terkulai, kesakitan.
"Aauuww.." jerit gue lagi, disertai kepala yang mendongak keatas.
"Masih sakit? Padahal sudah paling pelan, lho!" ujar si Abang. "Mau sayo pelankan lagi?"
"Gak usah, Bang! Segini cukup kok." kata gue berbohong. Gue gak mau nanti si Abang beranggapan kalo orang Jawa itu cemen-cemen. Jadi biarlah gue sakit, asalkan gue bisa menjaga nama baik suku gue. Ehmm..keren ya gue? :D
"Kalo orang Bugis itu apa sih artinya, Bang?" Didi terus nanya.
"Bugis itu kayak nama daerah. Dekat Medan itu, Sumatera Utara." jawab si Abang dengan sok tau.
"Hihihii.." gue ketawa mendengarnya.
"Kenapo tertawa? tanya si Abang ke gue.
"Geli, Bang.. hihihii.." jawab gue bohong. Si Abang percaya aja, karena memang dia mulai memijat bagian paha gue. Didi pasti tau kalo si Abang gak tau soal Bugis itu apa.
"Oh kirain Bugis itu artinya miskin." ujar Didi, kalem.
"Hahaha.." gue ketawa cukup kenceng. Sebelum ditanya kenapa, gue bilang: "Geli banget, Bang! Hehe.." Gue bohong lagi. Anggapan gue salah ternyata. Didi mengira saat tokoh Zainuddin dikatain orang Bugis, dia kira itu artinya: orang miskin.
Gue jadi inget, pernah disuatu hari Didi lagi dengerin lagu Reggae yang ada Lombok-Lomboknya gitu. Sedangkan gue lagi serius kerja. Diantara panasnya cuaca dan suasana yang hening, tiba-tiba Didi nanya ke gue: "Pon, Lombok itu di Jawa Tengah apa Jawa Timur, sih?" Karena gue kira dia bercanda, gue pun dengan sangat malas menjawab: "Di pantai barat pulau Sumatera, Di. Dekat Pontianak."
"Oh.." kata Didi, kalem. Gue gak nyangka dia percaya begitu aja.
Dua jam lamanya gue dipijat. Seluruh badan gue linu. Setelah pijat, gue memutuskan untuk langsung tidur. Sementara si Abang dan Didi masih nonton. Si Abang pun sepertinya mulai hanyut terbawa cerita filmnya. Sepanjang film diputar, tak henti-hentinya Didi nanya ke si Abang. Soal adat Minang lah, soal cowok disana yang katanya dibeli cewek lah, sampai ke masalah personal seperti: Abang ngantuknya kapan, ya? Karena memang Didi udah terlihat ngantuk banget malam itu. Tapi si Abang belum juga pulang.
Paginya, Didi bilang kalo semalam si Abang pulang jam setengah tiga pagi. Gue sendiri gak bisa bayangin, dini hari dua orang lelaki nonton film drama romantis, berasa geli aja gitu.
Hasil pijatan si Abang, badan gue sih jadi enak. Tapi tangan gue gak sembuh, masih sakit sampai sekarang. Gue terancam gak bisa kerja, terancam gak punya duit, terancam jadi gembel. Maksudnya, lebih gembel dari sekarang. Mungkin ini semua karena gak ada yang ngingetin gue buat jaga kesehatan :(
Notes:
Buat yang nanya cerita di blog ini asli apa enggak, gue jawab: ya, asli. Semuanya berdasarkan kejadian nyata di hidup gue. Meski begitu, ada tambahan unsur komedi didalamnya. Nama yang diceritakan disini juga gue samarkan, atas inisiatif gue sendiri :D
Baca juga artikel lainnya:
Behind the Event of Baturraden Reunion
Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1
Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 2
(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK
Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya
Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja
#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...
#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2
Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya
Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)
Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau
Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.