OKE gue tau, blog gue mulai terbengkalai. Gue jadi jarang posting. Gue juga jadi jarang mandi (mungkin yang ini gak ada hubungannya). Yang jelas, gue bingung mau nulis apa. Tiap kali gue mikir, mencoba nyari ide, gue malah pusing. Badan gak enak, bawaannya kesel, perut rasanya gak karuan. Saat gue ngomong gitu ke Didi, temen gue. Dia malah bilang dengan enteng: "PMS kali lo!"
"Kampret, lo!" tentu gue membantah. Karena waktu itu memang belum tanggalnya. Bukan, bukan, maksudnya, gue cowok, jadi gak mungkin PMS!
Punya blog membuat gue selalu mikir untuk nulis apa yang bakal gue posting. Tidak jarang gue merenung, menyendiri, berharap bisa mendapatkan inspirasi. Hal ini biasanya gue lakukan saat pup. Tapi bukannya dapet ide, yang ada malah dapet bau yang biadab.
Kadang gue juga dengerin suara hujan jatuh. Diantara rintikan yang menghantam bumi, gue selalu berharap bisa nulis sesuatu yang keren. Tapi yang ada gue malah galau, tiba-tiba inget mantan, tiba-tiba gue juga inget Indomie. Saat itu gue tau kalo gue laper, dan pengen makan Indomie rasa Mantan Penyet.
Semenjak punya blog, gue juga jadi inget masa-masa kecil gue. Masa itu samar-samar mulai teringat. Kenangan yang dulu, mulai berterbangan di otak gue. Gue jadi berfikir untuk ceritain tentang masa kecil gue dulu. Tapi disaat gue udah mulai nulis beberapa paragraf, pasti ada hambatan ditengah-tengah: ngantuk. Ini wajar, karena gue biasanya nulis saat menjelang tengah malam. Mungkin karena lebih tenang aja. Lagian kalo malem, sehabis nulis, gue bisa maling ayam dengan aman.
Besoknya, ketika gue mau melanjutkan tulisannya, gue baca lagi, gue tinjau kembali. Hasilnya: menjijikkan! Gue rasa kurang bagus, gak srek aja gitu. Alhasil gue hapus dan mulai lagi dari awal. Kasus seperti ini terjadi berulang-ulang. Yang imbasnya, gue jadi lama posting ke blog.
Oke, gue tau semua posting-an di blog ini memang menjijikkan. Tapi percayalah, kalo gue gak hapus dan tetep mem-posting tulisan itu, gue takut yang baca bakal muntah lewat hidung. Lagian gue gak mau dituduh sebagai pemicu kematian orang.
Contohnya saat gue nulis tentang cewek yang gue suka di desa orang tua gue tinggal, Slarang Kidul. Eh, pas udah nulis banyak, malah gue hapus lagi. Karena memang kurang bagus aja. Ya udah, gue jadi gak pengen ceritain itu. Pokoknya enggak mau!
Walaupun gue udah lupa siapa nama tuh cewek, tapi gue masih inget banget mukanya: cantik banget. Hampir mirip sama artis FTV, Winda Khair. Tapi sayang, gue gak mau ceritain dia disini.
Pada saat itu, gue baru kelas 3 di MIN Slarang Kidul. Sedangkan cewek itu beda sekolah dan beda kelas dengan gue. Dia kelas 5 di SD dekat rumahnya. Sebuah sekolah kecil dan sederhana. Sekolah yang bau pesing WC-nya, sampai ke jalan raya. Oke stop! Gue gak akan melanjutkan cerita ini.
Awal gue ngeliat dia, adalah saat gue main ke rumah Hisam, temen sekolah gue saat itu (Bagi yang belum tau Hisam siapa, bisa baca posting-an yang berjudul: Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1 dan 2).
Gue bahkan masih inget baju yang dia kenakan saat pertama kali gue lihat dia. Baju polos panjang warna merah dan celana jeans pendek ketat se-dengkul. Kulit putih, rambut panjang yang terikat, gue inget semuanya. Kecuali namanya. Sebenarnya gue berniat menulis nama dia dengan nama samaran Mawar. Tapi setelah dipikir-pikir, kok berasa kayak nama cabe-cabean yang sedang di interview Reportase Investasi, ya?
Hampir tiap hari gue main ke rumah Hisam. Hanya untuk bisa ngeliat dia. Ingin rasanya gue ngajak kenalan. Tapi gue malu, dia kakak kelas. Gue juga gak berani, mungkin karena waktu itu gue masih kecil. Tapi ternyata bukan, gue emang cemen. Saking cemen-nya gue, gue pernah dipalak sama anak kelas 3 sewaktu gue kelas 6 SD.
Beberapa bulan kemudian, gue pindah sekolah lagi ke Dukuhpayung. Si cewek itu gue lepas dengan harapan: mudah-mudahan gue bisa ketemu lagi dengan dia. Tapi ternyata tidak. "Kesempatan hanya datang sekali" itu terjadi pada gue. Entah seperti apa dia sekarang, gue gak tau. Udah nikah apa belum, gue gak tau. Udah pernah makan baksonya Mas Kumis apa belum, juga gue gak tau. Lagian kenapa juga dia harus makan bakso Mas Kumis. Entahlah.
Anehnya kejadian seperti ini (Gak tau nama, tapi inget muka sampai sekarang) gue alami lagi. Gue ketemu cewek kedua ini pada saat ikut lomba IPS. Waktu itu gue kelas 5 SD. Dan gue berhasil lolos ke tingkat Kecamatan mewakili SD gue. Sebelumnya gue berhasil "menghancurkan" wakil dari SD lain di tingkat grup. Yang berisi hanya beberapa SD dari desa-desa sebelah.
Ada beberapa mata pelajaran yang diperlombakan: IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan yang lainnya. Gue sendiri suka banget sama IPS. Terlebih soal sejarahnya. Itulah sebabnya gue gampang sekali inget sejarah hidup gue, beserta kenangan buruk yang terjadi. Karena dari dulu gue hanya belajar mengingat, dan gak belajar melupakan. Biasanya inilah cikal bakal terjadinya kasus gagal move on.
Saat itu gue dan Sarah lolos ke tingkat Kecamatan. Sarah mewakili SD gue untuk mata pelajaran IPA. Tapi sayang, temen gue yang lomba di mata pelajaran lain pada gugur. Gue yakin mereka gak ada duit buat "nyogok" guru pengawas.
Keesokan harinya, gue dan Sarah berangkat ke SD desa sebelah untuk lomba. Kita didampingi guru gue saat itu. Ketika gue memasuki ruang perlombaan, terlihat beberapa anak (malang) yang siap gue hancurkan. Mereka terlihat tegang. Ada yang melihat keatas, mungkin menghafal soal-soal yang sudah dia pelajari. Ada yang melihat ke kanan kiri, memperhatikan lawan-lawannya. Ada juga yang melihat kebawah meja, belakangan diketahui dia memang suka ngintipin rok cewek.
Perlombaan dimulai. Gue cukup tegang juga waktu itu. Beberapa sesi perlombaan gue lewati dengan mudah. Tapi pada saat sesi Pertanyaan Rebutan, petaka menimpa gue. Ketika pertanyaan pertama telah dibacakan, gue kalah cepat untuk unjuk jari. Dan disinilah gue melihat si cewek kedua itu. Dia yang bisa unjuk jari lebih cepat dari gue. "Oke, pertanyaan berikutnya, gue gak mau kalah cepet", kata gue dalam hati, dengan raut muka antagonis.
Pertanyaan kedua dibacakan, dan gue emang anak pertama yang unjuk jari. Tapi guru yang membacakan pertanyaan gak ngeliat gue. Memang gue akui: gue item. Mungkin guru itu mengira gue hanyalah bayangan. Apalagi saat itu, gue duduk di pojok yang cukup gelap. Jadi, gue-nya item dan tempatnya gelap. Sungguh kesempurnaan yang merugikan.
Gue kalah cepat lagi. Dan lagi-lagi si cewek itulah yang berhasil menjawab. Sepuluh pertanyaan rebutan telah selesai dibacakan. Inilah sesi terakhir lomba ini. Mungkin ada sekitar tiga kali gue kalah cepet dan gak keliatan. Si cewek ini berhasil menjawab banyak pertanyaan. Saat dia menjawab, gue selalu melihat dan memperhatikan dia ngomong. Gue cukup kagum dengan kecerdasannya. Sementara anak yang lain, gue pikir mereka cuma pelengkap. Gak ada yang mencolok sama sekali. Mungkin hanya satu atau dua pertanyaan yang "terlepas" dari gue dan si cewek itu dan berhasil dijawab sama anak yang lain.
Saat-saat menegangkan pun tiba: pengumuman juara. Semua anak terlihat tegang. Karena hanya juara pertama yang berhak lolos ke tingkat Kabupaten. Deg-degan juga gue saat itu.
Akhirnya, kenyataan pahit menimpa gue. Gue hanya dapet juara dua. Dan juara pertama? Tepat! Si cewek itulah yang berhasil menggondol juara satu, mewakili sekolahnya, SD Dukuhmaja. Sempat terlintas dipikiran gue buat teriak menggila: "GUE GAK TERIMAA!! PASTI INI ADA YANG SALAAHHH!! PASTI ADA KECURANGAAANN!!! DIAA NYOGOOKK!!! YA, PASTI DIA NYOGOOKKK!!!" Tapi niat itu gue urungkan, takut aja nanti gue dikira kesurupan dan gebuk pake bangku sekolah.
Akhirnya gue mencoba menerima kekalahan dengan lapang dada. Sikap ksatria gue memang udah tumbuh dari kecil (keren ya gue? Ehmm).
Hal yang bisa gue lakukan saat itu hanya bengong melihat senyum keceriaan si cewek itu. Dalam hati gue: "Gila, udah cantik, pinter juga." Saat itu gue hendak mengucapkan selamat ke dia, tapi Sarah udah manggil-manggil gue dari luar jendela kelas. Akhirnya gue keluar kelas dan pulang dengan harapan yang pupus. Si Sarah lolos apa enggak? Dapet juara juga enggak!
Sepulang dari perlombaan, gue masih mikirin si cewek itu. Rambutnya bergelombang, wajahnya yang manis, kecerdasannya, ahh itu semua sukses ngebuat gue senyum-senyum sendiri. Saat itu harapan gue sama: bisa bertemu dia kembali. Tapi sekali lagi, "Kesempatan hanya datang sekali". Gue gak ketemu dia lagi. Sampai sekarang, gue masih penasaran. Seperti apakah dia sekarang?
Notes:
Gue yakin, semua cowok pasti pernah mengalami apa yang gue alami. Saat melihat cewek, kita dengan bodohnya melewati kesempatan berkenalan begitu saja. Hanya lantaran kita malu, takut, gak pede buat ngajak dia kenalan.
Andai saja kita lebih berani, mungkin saja kita sudah melewati masa pacaran yang indah dengan dia. Inilah yang gue rasakan sebagai cowok. Gue gak bisa ngebayangin gimana kalo kejadian yang gue alami, terjadi pada cewek. Para cewek gak bisa ngungkapin perasaannya kalo dia suka sama cowok.
Malah dari banyak kasus, para cewek udah deket dengan cowok yang dia suka. Tapi gak dijadiin pacar juga. Ya namanya juga cewek, dia hanya bisa menunggu. Pasti nyesek banget, ya?
Mungkin solusinya kita harus sedikit lebih pinter, dan nyoba nyari lagi. Capek kan dibodoh-bodohin, di PHP-in, dan menunggu yang gak pasti?
Baca juga artikel lainnya:
Behind the Event of Baturraden Reunion
Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1
Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 2
(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK
Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya
Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja
#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...
#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2
Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya
Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)
Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau
Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar