"Udah naik semua? Gak ada yang ketinggalan?" Teriak Harto, temen gue.
"UDAAHHH." Jawab temen-temen semua dengan serentak.
"Oke, berangkat kita." Harto tersenyum lebar. Kemudian truk pun jalan.
Kami mau menuju ke pantai Pur'in, Tegal. Naik truk. Untuk reunian alumni SD gue, yang selalu diadakan seusai lebaran. Di desa gue (Dukuhpayung), kegiatan piknik rombongan emang sering menggunakan truk atau mobil bak terbuka.
Waktu itu lebaran 2009. Dan udah 2 kali alumni SD gue mengadakan reuni di tahun itu. 2 kali pula acara reuni ini selalu dilanjutkan dengan piknik ke pantai. Tapi ini pertama kalinya gue ikut reuni. Ditahun sebelumnya, gue gak di undang. Mungkin karena gue baru terlihat manusia di 2009.
Keluhan yang gue dapet pertama kali adalah: truknya bekas ngangkut batu bata. Setiap kali gue nyender di pinggir, pasti ada bekas merah di baju. Kalo duduk apa lagi. Untungnya gak ujan. Coba bayangkan kalo ujan. Pasti para cewek-cewek dikira gak pake pembalut.
Tapi semua anak-anak terlihat enjoy aja, kecuali beberapa anak yang mabuk darat. Ada sekitar 30an anak yang ikut. Jelas, ini mengakibatkan truk terasa sesak. Mana panas banget lagi. Dan gak ada karpet atau apapun yang meneduhkan diatas kami. Soalnya perjalanan itu dilakukan siang, sekitar jam 11.
Truk terus melaju. Debu bekas batu bata semakin liar berterbangan. Membuat nafas gue tambah sesak dan tentunya tambah memperkeruh suasana.
Gerah dan panaslah yang gue rasakan di dalam truk. Gue yang wujud aslinya udah item, bakal lebih item lagi pasti, karena kena matahari langsung. Dalam kegerahan yang begitu hebatnya, gue berinisiatif buat membuka jaket gue. Sekalian buat nutupin tubuh gue biar gak tambah item. Gak lucu kan kalo gue nanti dikira babi hutan karena kelamaan dijemur. Gue pun duduk nyender dengan kepala tertutup jaket. Udah gak peduli lagi dengan bekas merah yang nempel di baju.
Dalam perjalanan, anak-anak pada ngobrol dan becanda. Gue yang baru pertama kali ikut, terasa asing banget, jadi banyak diem aja. Cuma sesekali ngobrol dan ikut ketawa garing.
Sesekali gue memperhatikan anak-anak yang udah beberapa tahun gak ketemu. Ada beberapa anak yang terlihat berbeda dari pada pada SD dulu. Ada yang dulu jelek, sekarang mendingan. Ada juga cewek-cewek yang dulu diacuhkan, tapi sekarang justru menarik perhatian temen-temen cowok gue.
Saat lagi sibuk ngeliatin temen-temen gue, tiba-tiba aja ada sesosok pria dewasa terlihat. Gue yakin dia bukan alumni gue. Karena gue taksir, umurnya sekitar 24-25 tahunan. Sedangkan gue dan temen-temen alumni gue, baru masuk masa akhil baligh. Siapa pria itu, gue bahkan gak ngeliat dia naik truk. Tiba-tiba aja ada.
Pria itu berdiri dipojok belakang truk. Dia memakai kacamata minus, jaket model kotak-kotak seperti kemeja, celana jeans biru pudar, dan sepatu All Star hitam putih.
Sedang sibuk memperhatikannya, tiba-tiba pria itu ngeliat gue. Gue yang kepergok lagi ngeliatin dia, cuma bisa melemparkan senyum. Dia pun membalasnya dengan senyum yang sedikit lebar. Gue salah tingkah dan langsung melihat ke arah lain. Tapi saat gue ngelirik ke dia lagi, ternyata dia yang sepertinya gantian memperhatikan gue. Dalam suasana keruh seperti itu, rasanya gak pas kalo lirik-lirikan. Apalagi sama cowok.
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Gue dan anak-anak bergegas turun dari truk. Kemudian gue jalan sendirian masuk dan langsung mendekati bibir pantai. Rasanya lega banget saat ombak mulai terdengar. Sangat berbeda dengan suasana mengerikan didalam truk tadi.
Sesampainya di pantai, gue langsung ngeliatin keindahan laut. Rasanya begitu menenangkan sekali. Gak lama kemudian, anak-anak datang bergerombol. Beberapa anak terlihat membawa 2 kardus Indomie dan 2 kardus Aqua gelas. Belakangan gue ketahui kardus Indomie itu berisi nasi bungkus yang disiapkan panitia dari rumah.
Harto yang memang bertindak seperti panitia, langsung menyewa 2 tikar. 1 untuk para cewek, 1 lagi untuk para cowok. Kami pun duduk di bawah pohon-pohon yang lumayan rindang. Terlihat juga pria dewasa tadi. Dia ikut duduk di rombongan cowok. Gue liatin dia, dia ngeliatin gue. Gue senyum, dia senyum. Gue ngupil, dia minjemin jarinya (ya engga lah!).
Beberapa menit saat kami duduk-duduk, beberapa Mbak-mbak datang menawarkan makanan-minuman. Di pantai Pur'in ini memang banyak sekali penjual, terlebih waktu itu adalah hari raya. Dan pastinya banyak pengunjung, jadi para penjual sangat membanjiri kawasan pantai itu. Ada yang jual bakso, mie ayam, baju, aksesoris. Ada juga yang menjual para penjual lain (enggak kok :D).
Anak-anak mulai memesan minuman. Gue sendiri gak pesen apapun. Dan memilih minum Aqua yang ada. Dengan alasan, lebih sehat dan gratis tentunya.
Sedikit demi sedikit anak-anak mulai pergi dari tempat duduknya untuk mencari 'mangsa'. Tinggallah gue dan si pria dewasa berdua di tikar cowok. Dan beberapa cewek di tikar berbeda di samping gue. Sumpah saat itu gue ngerasa diasingkan, layaknya seperti penderita Ebola.
"Popon sekarang beda ya, gak kayak dulu. Keliatan lebih kalem sekarang hehehe.." kata salah satu temen cewek gue.
"Iya nih hehehe.." jawab gue disertai ketawa garing.
Gak banyak yang bisa gue obrolin. Karena memang gue gak jago ngomong, apalagi sama cewek. Akhirnya gue memutuskan untuk pergi jalan-jalan, melihat-lihat, sebelum gue mati kaku disitu.
Gue mulai jalan. Tapi hal mengejutkan terlihat: si pria dewasa itu mengikuti gue. Dalam benak gue, siapa sih nih orang! Kenal juga engga. Risih aja gitu jadinya.
Gue terus berjalan dan mulai memasuki sebuah jembatan yang menjorok ke laut. Sejauh mata memandang, terlihat para pasangan pacaran. Gue hanya bisa istighfar. Dalam keadaan nyesek seperti itu, si pria dewasa kampret masih terus menguntit gue. Bener-bener nih orang!
Tiba-tiba si pria dewasa itu mencolek pundak gue, dan bilang:
"Eh sendirian aja?" kata si pria sambil senyum-senyum.
"Uhh..i-iya nih Mas." kata gue kaget.
"Gak usah panggil Mas, nama aja." kata dia, masih dengan senyum-senyum.
Gue kaget. Terlebih, dengan kalimat yang dia keluarkan. "Sendirian aja?" dan "Panggil nama aja." adalah kalimat-kalimat yang biasanya digunakan Om-om saat mendekati gadis di sinetron-sinetron. Tapi gue tetep berusaha untuk berfikir jernih. "Nama aku Mu." kata si pria melanjutkan, lalu mengajak gue salaman.
"Oh iya Mu, akuu..."
"Cuma 2 huruf, Emmm.. Uuu.." dia memotong kalimat gue, dan mencoba menjelaskan namanya sambil memperagakan jarinya membentuk huruf M dan U.
"Iya, iya Mu, aku tau. Aku Popon." kata gue yang sedikit tersinggung, dikira gue tuna rungu apa, pake memperagakan segala.
"Oh Popon ya? ya ya.. kamu nggak pengin berenang, Pon? Tuh temen-temen kamu pada berenang!"
"Uhh gak ah, Mu. Takut dikira babi duyung."
"Hahaha kamu ini bisa aja! Gak ngumpul sama temen-temen kamu juga, Pon?
"Malu, Mu. Aku kan udah beberapa tahun gak ketemu mereka, jadi ya gitu."
Gue mulai curhat. Kita pun banyak ngobrol. Lama kelamaan, gue ngerasa nyaman ama dia. Gue ngerasa gak sendirian lagi. Sempat terlintas dipikiran gue: ya Allah, inikah jodohku? Tapi gue tersadar dan istighfar banyak. Dia cowok!!
Sempat juga gue berfikir, jangan-jangan dia homo. Dan berniat akan menjadikan gue sebagai korbannya. Tapi gue tetep mencoba untuk gak panik.
Kita keluar jembatan dan kembali ke rombongan. Tapi gue memilih duduk di sebuah kursi yang gak jauh dari rombongan. Si Mu duduk di kursi depan gue. Kita berhadapan dan cuma terpisahkan sebuah meja. Kemudian seorang Mbak-mbak datang.
"Mau minum apa, Mas?" kata si Mbak.
"Uhh..Pop Ice aja, Mbak. Yang coklat. Kamu apa, Mu?"
"Ah engga usah ah."
"Udah gak papa."
"Beneran gak usah, aku mau ambil Aqua aja kesitu."
"Bener?"
"Yang rasa toberi deh."
"Oh stroberi, yaudah. Mbak, yang stroberi 1 ya!" dalam hati gue: bikin lama aja!
Kita pun minum berdua, sambil ngobrol ngalor-ngidul. Dia cerita tentang mantan istrinya. Yap, ternyata dia duda.
"Pon, kamu gak laper? Aku ambilin nasi bungkus ya?" kata si Mu.
"Lumayan sih, boleh deh."
Si Mu pergi ngambil nasi. Kok dia perhatian banget ya, pikir gue. Apa dia berniat menikahi gue ya. Astaghfirullahal'adzim, gue nyebut lagi.
Si Mu dateng bawa 2 nasi bungkus dan 2 Aqua gelas. Kita pun makan. Si Mu makan cepet banget. Entah karena enak atau dari kelas 2 SD gak makan. Gak tau deh.
Selesai makan, si Mu terlihat merogoh-rogoh kemaluannya. Gue kaget. Tapi ternyata dia ngambil sebungkus Gudang Garam Djaja dan 1 kotak korek Tiga Durian. Alhamdulillah, gue lega.
"Rokok, Pon?" si Mu menawarkan.
"Oh iya, iya kalem."
Tiba-tiba si Mu berdiri. Dia seperti berusaha membetulkan risleting celananya. Tapi ternyata bukan. Dan untuk sekian kalinya, gue dikagetkan. Ada kawat di atas risleting celananya. Gue bengong.
"Ini kancingnya copot, jadi aku ganti pake kawat." kata si Mu yang seakan bisa membaca pikiran gue.
"Oh..WOW!!" gue kagum, entah kenapa juga gue harus kagum.
Dia duduk kembali dan sesekali menghisap rokoknya. Kita ngobrol kembali. Dan akhirnya dia mengungkapkan alasannya, kenapa dia ngikutin gue. Ternyata dia pengen kerja ikut Om gue di Bandung. Dia tau kalo gue keponakannya. Saat dia bilang begitu, gue cuma manggut-manggut. Dia juga bercerita soal tempat kerjanya dulu.
Gue pun menyuruhnya buat ketemu langsung aja ama Om gue. Si Mu menyanggupi.
Sekitar jam 5 sore, gue dan anak-anak bersiap untuk pulang. Pada saat didalam truk, gue gak banyak diem lagi. Karena gue udah dapet pendamping (baca: temen ngobrol).
Setelah sampai, kami semua berhamburan balik ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, waktu gue baru bangun, si Mu udah di rumah Nenek gue pagi-pagi buta. Bukan, bukan mau ngelamar gue, bukan! Dia lagi ngobrol ama Om gue. "Wuihh, pagi-pagi buta udah kesini aja nih, Mu..hehe" Kata gue sambil cengengesan.
"Udah siang, Pon. Tuh liat jam!"
Gue melihat jarum pendek jam diantara jam 9 dan 10. Mampus! Udah siang ternyata.
Baca juga:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar