"Nak, kamu sudah ada uang? Kalau ada, cepat kirimkan ke ibu ya!" Terdengar suara seorang ibu-ibu dari handphone temen gue yang di loudspeaker. Itu ibunya Aryan, salah satu temen kerja gue. Aryan masih 13 tahun. Dan dia sudah bekerja banting tulang untuk keluarganya. Luar biasa memang.
Aryan berangkat ke Bandung sejak saat dia lulus SD. Dia (mungkin dengan terpaksa) kerja disini bareng gue. Sudah mau 7 bulan dia bekerja. Kata Aryan, orang tuanya enggan memasukannya ke SMP. "Percuma kamu sekolah. Bodoh terus dari dulu." Begitu kata orang tua Aryan, saat cerita ke gue. Inilah sebabnya Aryan bekerja di usia sedini itu.
Di daerah gue, Brebes, hal seperti itu memang sudah lazim terjadi. Dimana para orang tua terkesan 'meng-eksploitasi' anak-anaknya. Banyak orang tua yang dengan sengaja 'membuat' banyak anak. Dengan niat, anak-anaknya kelak harus menafkahi mereka. Padahal, beberapa orang tua ini masih muda dan sangat mampu untuk bekerja menafkahi keluarga. Tapi justru para orang tua ini 'memanfaatkan' anak-anaknya. Sungguh orang tua yang manja.
Mungkin para orang tua ini berfikir begini: "Dia anakku, harus nurut denganku, dan berbakti padaku." Atau kalo kalimatnya diperpendek dan diperkasar, jadinya begini: "Dia anakku, dan harus mau jadi pembantuku." Kenapa orang tua kita begini? Mereka bahkan secara tidak langsung, melarang kita memiliki mimpi.
Bahkan banyak juga orang tua di Brebes yang tega menjual anaknya untuk dijadikan TKI. Ketika ada penyalur TKI datang kerumahmu, dan meminta ijin ke orang tuamu untuk membolehkan kamu jadi TKI, biasanya si penyalur akan memberikan uang ke orang tuamu supaya mengijinkan. Dan jika orang tuamu mengijinkan lalu menerima uang tersebut, jelas ini adalah sebuah human trafficking.
Kebanyakan alasan orang tua memilih tidak melanjutkan sekolah anaknya adalah: karena anaknya bodoh. Tapi jujur, gue kurang setuju dengan alasan yang seperti itu. Yang justru terngiang dipikiran gue adalah: kenapa anaknya bodoh? Anaknya yang bodoh, apa orang tua yang kurang peduli? Sudahkah para orang tua mendidik dan merawat buah hatinya dengan baik? Gue rasa kurang.
Faktor lain adalah: problem ekonomi. Dimana para orang tua tidak mampu melanjutkan sekolah anaknya. Tapi ada juga anak yang merasa orang tuanya tidak mampu, lalu memilih bekerja. Biasanya ini terjadi pada anak pertama. Akan tiba masa dimana anak pertama merasa kalo adik-adiknya lah yang lebih pantas mendapatkan pendidikan. Jelas, ini pengertian yang salah kaprah. Semua anak berhak mendapatkan pendidikan. Cuma, orang tua kita aja yang memberi efek psikologis ke kita. Para orang tua kadang manja, sering mengeluh capek, cerita hutangnya ke anaknya, atau masalah lain yang akhirnya membuat anak tidak semangat belajar. Dan ingin buru-buru bekerja membantu masalah orang tuanya. Dan rela mengubur mimpinya.
Bukan, gue bukan bermaksud menyuruh untuk tidak berbakti ke orang tua. Tapi lebih kepada menyadarkan. Bahwa kita harus memiliki mimpi dan orang tua wajib turut serta dalam mengejar mimpi anaknya. Bukannya malah mematahkan semangat anaknya. Gue cuma merasa kalo orang tua kita terlalu manja. Gue pernah bertemu tukang sayur seorang ibu-ibu setengah baya di pasar Bojong, Pekalongan. Dia berjualan sehabis subuh, dan pulang ketika menjelang dzuhur. Dia berjualan dengan hanya memakai karung bekas yang dia jahit sendiri sehingga bisa menjadi alas untuk dagangannya. Tapi apa? Anaknya seorang mahasiswa si UGM! Iya betul, Universitas Gajah Mada. Universitas terbaik di Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun ini. Ini sebuah hal yang sangat berbanding terbalik dengan para orang tua di Brebes. Dimana mereka lebih mementingkan anaknya bekerja dan mandiri. Jadi, mau sampai kapan begini terus?
Gue yakin. Dulu, sebelum para orang tua kita menikah, pasti memimpikan keluarga yang harmonis, ekonomi yang baik, dan anak yang lebih baik dari mereka. Ini dia "Anak yang lebih baik". Gimana mau lebih baik kalo gak sekolah?
Mungkin dulu, kakek-nenek kita juga mengharapkan hal yang sama: anak yang lebih baik darinya. Tapi tetep begitu aja. Kemudian giliran orang tua kita yang mengharapkan hal itu. Tapi gagal. Lalu mungkin nanti kita yang bakal berdoa: "Ya Allah, berilah nasib baik kepada anak-anak hamba. Jadikanlah anak-anak hamba orang yang sukses, tidak seperti hamba." Pertanyaannya, apakah nanti kita akan berhasil?
Mungkin ini cuma akan menjadi angan tabu bagi kita. Selama kita tidak melakukan langkah-langkah besar untuk lebih baik, gue rasa kita akan gagal. Hingga disuatu hari, anak kita yang akan berdoa demikian. Dan bukan tidak mungkin juga, kelak cucu kita yang berdoa demikian. Gitu terus sampai kiamat.
Tapi yang lalu ya biarlah berlalu. Gak ada gunanya disesali lagi. Sudah saatnya kita mewujudkan (mungkin) mimpi-mimpi kakek-nenek dan orang tua kita dulu. Yaitu, menciptakan generasi yang hebat. Mungkin kita terlahir miskin, tapi ini bukan masalah. Yang jadi masalah kita adalah, jangan sampai kita mati miskin.
Kalo kita menyerah dengan keadaan, sudah pasti kita gagal. Jadi, ayolah lawan keadaan kita. Seburuk apapun itu, jangan mudah menyerah. Memang jalan yang kita tempuh gak mudah. Tapi apapun halangannya, kalo kita memilih untuk tidak terganggu, Insyaallah gak jadi masalah buat kita.
Pesan moral:
Buat orang tua dimanapun kalian, tolong tunjukkan semangat hidup kalian. Dan jadilah teladan yang baik untuk anakmu. Ijinkan mereka mempunyai mimpi, dan berani mengejarnya. Orang tua mana yang tega, anaknya yang bahkan masih SD tidak berani bermimpi?
Buat orang yang baru atau mau menikah, tolong rencanakan sebaik mungkin tentang keinginan memiliki anak. Gue yakin, kalian juga menginginkan buah hati yang kelak bisa lebih baik dari kalian, kan? Tolong seimbangkan antara ekonomi dengan rencana memiliki anak. Supaya nantinya sudah benar-benar siap untuk biaya sekolah anak. Jangan lagi menciptakan generasi yang sama. Beranilah untuk melangkah ke arah yang lebih baik.
Buat orang yang putus sekolah dan mungkin sudah terlanjur bekerja, tetaplah semangat. Walaupun belum punya anak, mungkin setidaknya, kamu masih punya adik yang sekarang termasuk dalam tanggung jawabmu. Bimbinglah mereka, jadilah kakak yang bisa membangkitkan semangat belajar adikmu. Bantulah biaya sekolahnya. Urungkan niatmu untuk memiliki hal yang kamu inginkan. Bukalah matamu, bahwa ada hal lain yang lebih penting. Prioritaskan untuk adikmu. Dan yang tidak kalah penting, bangkitkan juga semangat orang tuamu. Sadarkan mereka akan pentingnya pendidikan.
Dan buat adik-adik yang masih sekolah, jadilah yang terbaik. Jangan takut bermimpi. Jangan terganggu dengan keadaan. Tekatkan niat baikmu. Jangan perduli orang lain. Jangan dengarkan kalimat yang tidak masuk ke logikamu. Bahkan jika kalimat itu keluar dari mulut orang tuamu. Jangan mudah terpengaruh oleh siapapun, yang cuma akan menghambat niat baikmu. Jangan buru-buru ingin bekerja. Karena sesungguhnya kamu lagi bekerja. Pekerjaanmu ya belajar dengan baik. Capailah prestasi di sekolahmu, atau minimal di kelasmu. Kamu ingat pelajaran biologi, bahwa orang dewasa, sekali mengeluarkan sperma itu bisa mencapai 400 juta sel sperma. Dan kamu tau, hanya butuh 1 sel sperma untuk bisa mencapai ovum dan kemudian menjadi janin. Jadi intinya, kamu lahir diantara persaingan ratusan juta sel sperma lain. Dan kamulah sel sperma yang berhasil menuju ovum. Yap, kamulah pemenangnya. Jadi bisa dibayangkan, bersaing dari ratusan juta saja kamu menang dan berhasil, kenapa dengan ratusan atau ribuan teman sekolahmu saja tidak bisa? Inget, sebelum kamu lahir saja, kamu bisa bersaing, kenapa setelah lahir jadi mudah menyerah? Ayolah, semangaaattt!!! Jadilah orang yang memiliki daya saing tinggi, seperti sebelum kamu lahir. Inget juga, kamu adalah pemenang persaingan antara ratusan ribu sel sperma. Kamu bisa :)))
Baca juga:
Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar