Rabu, 18 Maret 2015

Behind the Event of Baturraden Reunion

       CERITA ini bermula dari lamunan gue. Meski lebaran selalu identik dengan hingar bingar keceriaan, tapi entah kenapa disaat lebaran tiba, pasti ada sesuatu yang gue rasa kurang. Gue coba liat kebawah, tapi semuanya lengkap kok. Gue pake celana kok. Gue coba nengok ke dalamnya, gue juga pake kolor kok. Terus apakah sesuatu yang kurang tersebut? Tidak lain dan tidak bukan, sesuatu itu adalah TEMAN.
       Mungkin ini cuma gue yang merasakan. Tapi jujur, gue kadang kangen sama temen SD gue. Karena gak mungkin gue kangen sama temen SMA gue, karena gue kan gak sampai SMA.

       Saat lebaran, memang cukup mudah untuk bertemu temen-temen SD gue. Tapi tentu gak semua temen bisa gue temui. Maka dari itu, gue adalah orang yang paling semangat buat mengadakan reuni SD gue. Karena gak mungkin gue mengadakan reuni SMA. Kan udah gue bilang tadi, gue gak SMA.
       Singkat cerita, 3 atau 4 tahun lalu (gue lupa), gue dan beberapa temen SD gue, sepakat untuk mengadakan reuni dan piknik ke Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah.

       Kita pun mematangkan rencana reuni ini. Pertama-tama gue, Burhan, dan Ucup, pergi ke warnet di bilangan Jatibarang, Brebes malem-malem. Kita bertekad akan membuat undangan pertemuan untuk semua temen SD alumni gue, SD Negeri Dukuhpayung 01. Sesampainya di warnet, kita bergumul (baca: berkumpul) didepan satu monitor. Burhan ditengah, Ucup disamping, gue jaga parkir (ya enggak lah!).
       "Gimana kalo bikin undangannya kayak undangan nikah aja. Jadi nanti disitu ditulis nama gue kawin sama Rachel Amanda. Pasti semua orang bakal datang dengan antusias hehe.." kata gue memberi ide ke Burhan dan Ucup.
       "Gimana..gimana? Bagus kan ide gue?..hehe" gue terus terkekeh.
       "Gimana kalo lo beli minum aja kedepan!" kata Ucup, kesel.
       "I..Iya deh." gue nurut. Mungkin itu bukan ide yang baik.

       Setelah memilih beberapa contoh undangan disebuah website, kita bertiga akhirnya menemukan undangan yang pas. File itu pun dibawa ke penjaga warnet (yang lebih mirip penjaga terminal) untuk di print.
       "Eh..ehh Ini udah? ujar gue sambil menunjuk ke arah monitor.
       "Udah, kan ini udah nemu undangannya." seru Burhan.
       "Tapi ini sayang, lho. Gue mau download lagu Sheila On 7 bentar ya?"
       "PON!! Udah malem!!" kata Ucup dengan nada sedikit tinggi.
       "O..oke kita pulang." gue merinding.

       Keesokan harinya, undangan di foto copy dan disebarkan. Pada tanggal dan jam yang sudah ditentukan di undangan, temen-temen SD gue pun berkumpul di rumah Burhan. Saat itu tepat malam takbiran. Dari 50 lebih undangan yang disebar, hanya ada sekitar 30 lebih anak yang datang.
       Burhan mulai berbicara tentang rencana reuni ini kepada temen-temen yang datang. Ada yang mendengarkan Burhan ngomong, ada yang asik ngegosip, ada juga yang sibuk nawar terkait iuran yang harus dikeluarkan setiap anak. Gue memaklumi, saat itu memang masih banyak anak yang masih sekolah. Jadi mungkin mereka keberatan dengan nominalnya. Sampai-sampai dari nominal yang semula 50 ribu, ada yang nawar 15 ribu. Disini kadang gue merasa sedih.

       Pertemuan yang menegangkan itu pun selesai. Karena gue, Burhan dan Ucup cowok yang baik hati (eghheemm), jadi kita meringankan iuran bagi temen-temen yang masih sekolah.
       Sehabis pertemuan, gue, Burhan, Ucup dan dua temen gue yang lain, langsung pergi ke Pangkah, Slawi. Kami berniat untuk mencari bus buat kendaraan reuni nanti. Karena malam itu adalah malam takbiran, jalanan pun penuh dengan kendaraan. Banyak orang yang takbir keliling. Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Tapi justru Burhan terlihat kebingungan. Gue juga bingung. Karena yang terlihat sejauh mata memandang, hanyalah tanah kosong yang luas dan gelap (sama seperti hati jomblo yang lama tak berpenghuni). Intinya kami semua bingung.
       "Mana bus-nya? Kok gak ada? tanya gue.
       "Gak tau, katanya sih disini ada." jawab Burhan.
       "KATANYAAA?? Kita jauh-jauh kesini cuma karena 'katanya'? ujar Ucup sewot.
       "Udahlah, yang penting kita kan udah berusaha." temen gue yang lain menengahi.
       "Makanya lain kali kalo dapet info itu diselidiki dulu, berdasarkan fakta atau cuma gosip!" Ucup mulai lapar.
       "Iya deh." kata Burhan.
       "Kita coba cari lagi aja, muter-muter. Mungkin disekitar sini ada." ajak gue.
       Kami semua sepakat dan mulai nyari lagi muter-muter disekitaran Pangkah tersebut. Tapi sungguh usaha yang sia-sia. Kami gak menemukan apa yang dicari. Kemudian kami pun pulang.

       Besoknya setelah berlebaran, gue dan temen-temen gue kumpul lagi. Membahas problem yang sama: soal bus. Gue dan temen-temen juga disibukkan dengan datang kerumah-rumah anak yang belum ngasih iuran. Dengan muka gue yang gembel seperti ini, gue ngerasa mirip seperti orang minta sumbangan. Tapi demi tercapainya acara ini, hal hina seperti ini tetap gue lakukan.
       Paginya gue dan temen-temen (biasa) nyari bus lagi. Kali ini tujuan kami ke Ketanggungan, Brebes. Ini bisa dibilang kesempatan terakhir kami. Karena kami sudah terlanjur janji ke semua temen, kalo besoklah hari kami semua berangkat ke Baturraden. Sebelumnya, gue dan temen-temen pengurus reuni ini, bukan tanpa usaha. Kami selalu mencari info kesana kemari. Tapi karena mungkin waktunya yang terlalu mepet, jadi sangat sulit mendapatkan bus.
       Selama perjalanan menuju Ketanggungan, gue gak henti-hentinya celingukan ke kanan kiri. Berharap ada yang bisa membantu kami. Celingukan gue pun membuahkan hasil. Gue melihat sebuah tempat penyewaan bus pariwisata. "Gak sia-sia leher gue celingukan sampai lentur gini." pikir gue.
       Tempat tersebut pun kami masuki. Tapi kata orangnya, bus udah full booking. Untuk kesekian kalinya, gue sedih. Gue bener-bener tegang, kalau-kalau nanti gak dapet busnya. Mungkin memang inilah yang terjadi kalo segala sesuatunya dikerjakan mendadak.
       Akan tetapi, perjuangan kami gak sampai disitu. Gue dan temen-temen terus melanjutkan perjalanan. Gue juga tetep nengok kanan kiri. Dijalan yang kami lalui, cukup sering kami melihat bus yang terparkir dijalan. Beberapa bus yang terparkir tersebut juga kami datangi. Kami tanya orang yang bersangkutan. Tapi tetep gak bisa, karena udah ada yang pesen. Sampai di Ketanggungan juga gak ada bus yang bisa bantu kami. Lalu sejenak kami beristirahat.
       "Gimana nih, gak dapet-dapet juga. Musti nyari kemana lagi?" tanya Ucup yang mulai lelah.
       "Ke Tegal aja, yuk!" jawab Burhan.
       "Losari aja mumpung sejalur." temen gue yang lain menambahkan.
       "Sampai ke Cirebon kalo perlu." tambah temen gue yang lain juga.
       "Ke warung nasi aja dulu, yuk! Laper nih." kata gue gak nyambung. Gue yang memang dari pagi belum sarapan, ngerasain laper banget saat itu.

       Kami semua akhirnya makan dulu di sebuah warung nasi. Setelah itu, kami melanjutkan lagi pencarian bus itu. Sampai sore hari, gak ada juga bus yang menyanggupi. Kami pun pulang dengan kemalangan yang menyelimuti.
       Malam pun tiba. Kami selaku pengurus, sangat amat dirundung ketegangan. Cukup sering juga kami saling menyalahkan satu sama lain. Sempat terlintas kami akan mengembalikan uang iuran dan membatalkan acara ini. Jujur, gara-gara acara ini gue jarang pulang ke rumah. Kadang aku ngerasa kangen sama nenek gue. Kadang juga aku ngerasa seperti lagi LDRan sama nenek gue.

       Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Kami masih berdiskusi, mencari jalan yang terbaik. Kami semua bingung. Apa kata temen-temen nanti kalo sampai acara ini gagal. Pasti gue dan temen pengurus lainnya sangat malu. Terutama gue. Karena selain gue yang paling semangat disini, gue juga jelek (lho, gak nyambung!).
       Tak berapa lama, kabar baik kami terima: ada kenalan bokapnya Burhan yang mungkin bisa bantu. Si kenalan bokapnya Burhan pun bersedia mencarikan bus malam itu juga. Tanpa pikir panjang, Burhan dan si kenalan bokapnya Burhan berangkat ke daerah barat Pantura, Brebes. Mereka berdua naik motor. Untung aja saat itu trend begal belum ada. Jadi walaupun tengah malem, mereka dengan jumawa pergi ke tujuan.

       Gue dan temen-temen lain menunggu si Burhan dengan cemas. Bokap Burhan yang turut cemas juga menunggu bersama kami. Jam satu malam, Burhan belum kembali. Harapan kami sih mereka berhasil mendapatkan bus. Tapi harapan yang justru sangat besar: mereka kembali dengan selamat.
       Jam dua dini hari, Burhan belum juga kembali. Kami yang menunggu di teras rumah Burhan, sangat cemas. Entah kenapa, saat itu gak ada rasa kantuk yang kami semua rasakan. Udara malam yang amat dingin pun seperti gak terasa. Kopi panas juga terasa biasa dan sangat cepat abis. Imbasnya, kami menghabiskan banyak kopi malam itu.
       Memasuki jam tiga, akhirnya Burhan pulang dengan selamat. Dan kabar baiknya, dia berhasil mendapatkan bus. "Yeeessss" teriak gue dalam hati. Gue seneng banget. Kami semua haru dibuatnya. Sungguh penantian yang berbuah manis. Hampir saja kami semua akan berpelukan. Tapi niat itu kami urungkan, demi menghindari tumbuhnya benih-benih cinta diantara kami.
       Besoknya, hari besar itu pun tiba. Selesai siap-siap, gue berangkat ke rumah Burhan. Tapi hal mengejutkan terlihat: ini bus apa mobil? Kecil banget!! Gue sempet protes ke Burhan. Tapi dia bilang dengan nada sayu: "Cuma ini Pon yang bisa. Inilah yang bisa kita usahakan." Gue cuma menyadari betapa buruknya persiapan kami. Gue pikir akan semudah nyari truk. Ternyata ini lebih susah dibanding nyari pacar.
       Alhasil, bus segede mobil itu sangat penuh. Kursi mobil hanya sekitar 20. Sedangkan anak yang ikut lebih dari 30. Semua anak cowok gak dapet duduk karena satu kalimat ajaib: Ladies First. Yaudah akhirnya semuanya kacau. Piknik yang kami pikir akan menyenangkan, malah membuat kami semua trauma. Yang efeknya, semenjak reuni itu, kami gak pernah mengadakan reuni lagi.






Ucapan penutup:

       Buat semua temen-temen yang ikut reuni ini dulu, gue minta maaf. Kami menyadari betapa buruknya persiapan kami. Saat itu kami masih ABG, kami labil, kami masih berfikir pendek kala itu. Kami fikir bakal semudah seperti reuni pake truk ditahun sebelumnya. Maaf sekali lagi. Gue tau pasti kalian gak merasa bahagia :'(

       Buat keluarga Burhan, makasih karna sudah bersedia direpotkan. Makasih buat tempatnya. Buat bokap Burhan juga makasih sudah bersedia dengan sabar membantu kami. Makasih :')

       Buat temen-temen pengurus, Burhan, Birin, Kluning, dan yang lainnya, makasih sudah mau dipusingkan, sudah mau capek. Walaupun hasilnya kurang, tapi gue seneng bisa mewujudkannya. Gue seneng kalian bisa merasakan apa yang gue rasakan: rasa ingin bersama. Buat Ucup juga makasih banget. Karena temen gue yang inilah, yang paling banyak keluar duit. Makasih ya :')

       Dan buat semua alumni SD gue, hanya satu kalimat: GUE KANGEN KALIAN. Karena gak mungkin gue kangen sama temen SMA gue, iya kan? Mudah-mudahan kalian bisa merasakan, mana tulisan biasa, dan mana tulisan yang dari hati :')







Baca juga artikel lainnya:

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 1

Sepenggal Cerita Di Desa Slarang Kidul 2

(puisi) KETIKA HATIKU ADA YANG MENGETUK

Dukuhpayung dan Hal Absurd Yang Terkandung Didalamnya

DEMAM TOGEL

MISTERI POCONG HITAM

ASAL JANGAN BAND METAL

MENCINTAI DALAM DIAM

Apa Keluhanmu? #TanyaOmTeri Aja 

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...

#TanyaOmTeri, Ini Jawabannya...part 2

BANDUNG LOVE STORY

BANDUNG LOVE STORY 2

BANDUNG LOVE STORY 3

Tentang Oponk dan cerita absurd lainnya

Download aplikasi pro gratis untuk android (sangat berguna)

Emm Uuu

Fakta-fakta cowok yang mungkin kamu belum tau

MAKE THINGS HAPPEN!

Cliponyu, sebuah aplikasi recomended untuk jomblo. Download gratis.

PEMIMPIN CILIK.

TIPS MENGHADAPI BEGAL

Tips Agar Kesan Pertama Saat Kencan Jadi Tak Terlupakan

1 komentar:

  1. Ehehehee krain bakal ceritain baturraden, because i miss the place. But, trmaksih telah buat bibir ini tersenyum-senyum menunggu kang masinis. Ganbate selalu yaassh !!!

    BalasHapus